Sunday, 17 December 2017

Perjalanan Sang Melon

Kamis, 7 Desember 2017 — 6:24 WIB
Pemain-pemain Napoli tampak lesu usai tersingkir di Liga Champions (reuters)

Pemain-pemain Napoli tampak lesu usai tersingkir di Liga Champions (reuters)

KETIKA itu masyarakat tidak bebas memilih. Minyak tanah atau gas. Mau pilih minyak tanah nggak ada kok, atau ada tapi harganya mahal banget karena tanpa subsidi. Apa boleh buat rakyat pun harus OK ketika ditawari gas, yang harganya murah terjangkau, karena ada subsidi di situ.

Lebih dari itu gas yang dimuat dalam tabung itu lebih bersih, lebih praktis, nggak berceceran kayak minyak tanah. Masyarakat dimanjakan karena kompor dan tabung pun gratis.

Mau nolak? Nggak lah! Bagi masyarakat luas, kalau yang namanya gratis mah ambil saja, apalagi gasnya juga murah. Gas 3 kg inilah yang kemudian dikemas dalam tabung berbentuk dan warnanya mirip buah melon. Maka, orang menyebut gas melon!

Dalam perjalanannya, banyak cerita duka dari sang melon. Yang meledak dan menimbulkan kebakaran. Dan tentu saja, selain melumat rumah dan harta benda juga korban jiwa. Tapi, peristiwa demi peristiwa berjalan, dan ya seperti biasa akan padam sendirinya. Kalau pun ada yang komentar ya hanya saling tuding, saling menyalahkan.

Gas melon sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas untuk memasak di dapur pribadi dan berdagang makanan matang. Gas melon memang harganya lebih murah dari gas tabung besar 12 kg yang tidak bersubsidi. Di sinilah yang sering terjadi kerawanan, banyak oknum pengusaha nakal yang menyuntik gas 3 kg ke gas 12 kg. Dalam proses mengoplos inilah yang sering terjadi insiden, seperti meledak sampai terjadi kebakaran. Salah satu dari kecurangan ini juga yang menimbukan kelangkaan gas melon.

Masyarakat lagi yang dirugikan. Bayangkan saja, mereka harus mencari kesana kemari demi sebuah tabung melon? Kalau pun ada mereka harus mengantre. Inilah jaman now yang nggak beda dengan jam 60-an. Rakyat disuruh mengantre minyak tanah dan sembako.

Tapi, boleh nanya barangkali ada lagi oknum yang menyembunyikan gas milik masyarakat banyak. Kasihan rakyat, selalu saja jadi korban. Melon meledak ya jadi korban, melon menghilang ya jadi korban, kompor nggak menyala, ya nggak bisa masak, dong? –massoes