Thursday, 14 December 2017

Puluhan Kendaraan Barang Bukti Jadi Bangkai di Polda Metro Jaya

Kamis, 7 Desember 2017 — 17:37 WIB
Barang bukti kendaraan (yendhi)

Barang bukti kendaraan (yendhi)

JAKARTA (Pos Kota) – Puluhan kendaraan yang disita polisi untuk dijadikan barang bukti tindak pidana terlihat parkir di beberapa sudut Polda Metro Jaya. Tidak sedikit yang sudah menjadi bangkai.

Dari puluhan kendaraan tersebut, baik roda dua maupun empat, banyak yang kondisinya mengenaskan. Mulai dari karatan hingga onderdil kendaraan yang sebagian sudah dipereteli bahkan beberapa di antaranya sudah ditumbuhi rumput liar.

Beberapa kendaran itu merupakan hasil kejahatan yang disita polisi untuk dijadikan barang bukti. Namun sebagian lainnya milik korban kejahatan yang memang tidak diambil pemiliknya.

Seharusnya, sebagaimana diatur dalam Undang-undang pada Pasal 46 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), kendaraan atau barang yang disita dikembalikan kepada yang berhak apabila penyidikan dan penuntutan tidak memerlukan lagi atau perkara dihentikan serta ditutup demi hukum

Dalam ayat (2) disebutkan, benda atau barang bukti tidak bisa dikembalikan jika menurut putusan hakim benda itu dirampas untuk negara untuk dimusnahkan atau untuk dirusakkan sampai tidak dapat dipergunakan lagi karena hasil kejahatan atau digunakan untuk bukti pidana lain.

Merujuk pada Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pengelolaan Barang Bukti di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perkapolri 10/2010), khususnya dalam Pasal 19 di jelaskan, barang bukti dikembalikan kepada yang berhak berdasarkan surat peringah penetapan pengembalian barang bukti dari atasan penyidik.

Sedangkan pengelola barang bukti harus memeriksa dan meneliti surat perintah atau penetapan pengembalian barang bukti dengan membuat berita acara serah terima yang tembusannya disampaikan kepada atasan penyidik dan mencatat atai mencoret barang bukti tersebut dari daftar yang tersedia.

Dalam aturan tersebut tidak dijelaskan adanya kewajiban pemilik kendaraan untuk menebus kendaraan mereka alias gratis.

Kepada Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, beberapa kendaraan itu sebagian adalah kendaraan hasil temuan dari pelaku tindak pidana yang tidak diketahui pemiliknya.

barang bukti

“Ada kendaraan yang bertuan dan tidak bertuan, tidak bertuan artinya adalah barang atau kendaraan temuan, terus ada namanya barang bukti, barang bukti pidana tentunya itu bagian daripada lampiran barang bukti pemberkasan,” kata Argo kepada poskotanews.com saat ditemui dikantornya, Kamis (7/12/2017).

Untuk kendaraan hasil kejahatan, polisi tidak bisa mengembalikan kepada yang berhak karena kebanyakan belum diketahui pemiliknya. “Kalau itu temuan kita tidak bisa (mengembalikan), melelang pun tidak bisa, semua ada aturannya, masa mobil curian kita lelang,” ujar Argo.

Namun, jika memang korban kejahatan yang kendaraan atau barang miliknya disita polisi untuk dijadikan barang bukti maka bisa saja mengambil dengan beberapa ketentuan diantaranya menyerahkan surat-surat sah kendaraan. Namun, setelah penyidik tidak lagi membutuhkan barang bukti tersebut untuk pemberkasan.

“Silahkan (mengambil kendaraan) dengan membawa surat keterangan resmi surat-surat kendaraan seperti BPKB, STNK dan tidak dipungut biaya. Kalau itu sudah masuk ditingkat pengadilan ngambilnya di pengadilan sana,” pungkas Argo. (yendhi/yp)