Sunday, 17 December 2017

Akan Picu Ketegangan di Timur Tengah

Sebagian Yahudi Menolak Keputusan Trump Soal Yerusalem Ibukota Israel

Kamis, 7 Desember 2017 — 9:11 WIB
Masjid Al Aqsa (kubah hitam) di Yerusalem.(Ist)

Masjid Al Aqsa (kubah hitam) di Yerusalem.(Ist)

ISRAEL – Tidak semua Yahudi mendukung Keputusan Donald Trump memindahkan Kedutaan Besar AS di Israel ke Yerusalem. Sebagian mengatakan tindakan Trump itu gegabah, bisa memicu konflik, dan belum tepat waktunya.

Salah satu protes datang dari politisi Yahudi Amerika Serikat Bernie Sanders. Dikutip AFP, Selasa (5/12), Bernie mengaku tidak setuju jika Kedubes AS dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Dia mengatakan, langkah ini hanya akan memicu ketegangan di Timur Tengah dan merusak proses perdamaian Israel-Palestina.

Pada akun Twitternya, Sanders menyinggung soal beberapa presiden sebelumnya yang menolak memindahkan Kedubes dengan menandatangani penangguhan setiap enam bulan sekali.

Pemindahan Kedubes AS berarti mengakui Yerusalem sebagai ibu kota, sebuah klaim yang ditolak komunitas internasional.

(Baca :DPR Desak Menlu Ajukan Nota Protes ke AS dan Minta PBB Gelar Sidang Darurat)

“Ada alasan mengapa semua pemerintah AS sebelumnya tidak memindahkannya, dan mengapa seluruh pemimpin dunia memperingatkan Trump untuk tidak melakukannya,” kata Sanders.

“Pemindahan akan merusak prospek perjanjian damai Israel-Palestina dan memperparah, mungkin membuat kerusakan yang tidak bisa diperbaiki lagi,” lanjut Sanders.

Pandangan yang sama juga disampaikan oleh Serikat untuk Reformasi Yudaisme, seorang organisasi Yahudi pimpinan Rabbi Rick Jacobs di AS.

Dia mengatakan, umat Yahudi memang menganggap Yerusalem sebagai ibu kota mereka, tapi saat ini bukan waktu yang tepat bagi Trump untuk mengumumkannya.

Menurut dia, pengumuman itu seharusnya dilakukan ketika telah tercapai perjanjian damai yang komprehensif.

“Setiap relokasi Kedutaan Amerika ke Yerusalem Barat harus dilakukan dalam konteks yang luar, yang merefleksikan status Yerusalem sebagai kota suci bagi Yahudi, Kristen, dan Muslim,” ujar Jacobs.(Tri)