Thursday, 14 December 2017

Sanggupkah Hadi Tjahjanto Puasa Tak Ngomong Politik?

Jumat, 8 Desember 2017 — 6:08 WIB
hadi

MENUNJUK seseorang jadi Panglima TNI, adalah keputusan politik seorang Presiden. Tapi meski dirinya produk politik, tidak elok jika Panglima TNI itu suka “ngompol” alias ngomong politik. Marsekal Hadi Tjahjanto calon pengganti Panglima TNI Gatot Nurmantyo, jadi tumpuan banyak kalangan; bisakah dia tampil beda dari pendahulunya?

Bulan Maret 2018 Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pensiun. Presiden Jokowi mengajukan calon tunggal ke DPR, KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto untuk menjadi penggantinya. Uji kelayakan untuknya telah dilakukan di Senayan, dan DPR menyetujuinya.

Yang menarik, pra uji kalangan DPR mempertanyakan, mampukah dia tidak tergoda politik. Mantan Panglima TNI sebelumnya, Moeldoko, juga mengingatkan hal yang sama. Sebab TNI harus terbebas dari berbagai kepentingan dan harus netral dari kepentingan apapun, termasuk dengan politik. Panglima TNI harus bertindak dan bicara sesuai dengan tupoksinya.

Pesan seperti itu demikian menguat, karena belajar dari pengalaman sebelumnya. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, sering sekali “ngompol” alias ngomong politik. Tapi dia pun beralasan, apa yang dilakukan bukanlah politik praktis, tapi politik kenegaraan. Artinya, tindakan yang dia lakukan selama ini merupakan pelaksanaan tugas yang sesuai dengan konstitusi.

Boleh saja Panglima membela diri. Tapi banyak kalangan sempat kecewa dan menyayangkan, ketika Jenderal Gatot Nurmantyo berhasil “diplekotho” (dikerjain) oleh Deny JA beberapa waktu lalu, untuk membacakan puisi “Bukan kita punya”. Apakah tidak ditelaah dulu naskah tersebut? Bukankah isinya mengkritik pemerintahan Jokowi-JK?

Di negara demokrasi, mengkritik Presiden bukanlah tabu. Tapi jika hal itu dilakukan Panglima TNI dan secara terbuka pula, adalah perilaku yang sangat disesalkan. – gunarso ts