Wednesday, 13 December 2017

Wakil Ketua DPR:

Trump Dukung Yerusalem, Sikap RI Harus Lebih Keras

Jumat, 8 Desember 2017 — 9:03 WIB
Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah.(timyadi)

Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah.(timyadi)

JAKARTA (Pos Kota) – Mengumumkan dan mengakui bahwa Yerusalem merupakan Ibukota Israel, Presiden Donald Trump telah mengambil keputusan ngawur. Donald Trump dinilai sedang mengalihkan isu, karena dirinya diserang Senat dan konggres masih terkait karena penyelidikan tentang keterlibatan Rusia dalam memenangkan dia di Pipres AS.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah terkait pengakuan Presiden AS Donald Trump terhadap klaim Israel bahwa Yerusalem sebagai Ibukota negara Yahudi itu.

Menurut Fahri, Amerika sibuk dengan diri dan kepentingannya sendiri. Apalagi Presiden Donald Trump sendiri tidak pernah baca sejarah, tidak baca konteks dunia. Dia sibuk untuk mengurai bagaimana keluar dari masalahnya sendiri.

“Menurut saya, donald trump akan dijatuhkan oleh Senat dan Kongres AS, karena penyelidikan tentang keterlibatan Rusia dalam memenangkan dia di Pipres AS itu makin lama makin kelihatan,” ujarnya, dalam rilis kepada media, Jumat.

“ Jadi mungkin dia mau mengalihkan isu dalam negerinya itu, tapi akibatnya dia mengorbankan apa yang sudah menjadi percakapan dunia tentang perdamaian dunia, dimana Yerusalem adalah bagian dari negara Palestina yang sampai sekarang merdeka pun ditahan-tahan sehingga menimbulkan ketidakpastian. Sekarang ini malah membuat pengumuman bahwa Ibukota nya diambil alih. Itu kan ngawur sekali,” tegasnya.

Pertama, itu adalah bagian dari sejarah orang Palestina yang sekitar-sekitarnya sudah dirampas. Tetapi dalam semua perjanjian yang pernah ada, dalam 70 tahun ini, posisi Yerusalem tidak pernah bisa menjadi bagian dari Israel, tetapi lebih dekat menjadi bagian dari Palestina. Dan sejarahnya memang begitu, karena mereka mengelola kota suci, kota agama dimana di situ ada rumah ibadah agama-agama.

“Jadi kebijakan Trump ini agak mencemaskan, tetapi saya berharap dunia jangan bereaksi secara ekstrim. Sebab ini adalah provokasi terhadap dunia untuk menciptakan kekacauan. Sehingga kita melupakan masalah yang menjadi inti persoalannya (Trump). Ini kan kabinetnya lagi goyang, dan itu urusan dalam negerinya dia,” ujarnya.

Ditegaskan Fahri,  kalau dia mengacaukan perdamaian yang sedang kita rancang lama, dan kongsi dia dengan Netanyahu ini yang sama-sama punya motif yang jahat kepada keadilan dan kepada perdamaian dunia, maka kita jangan mau bergeming, jangan mau terprofokasi.

“Karena mereka sebentar lagi akan berakhir. Indonesia harus lebih keras, bukan hanya menyesalkan. Kita mesti kembali pada esensi pendiri bangsa kita dan posisi Palestina di dalamnya,” tandasnya.

Kalau kita membiarkan pencaplokan ini, apalagi sudah setiap hari Israel mencaplok tanah-tanah di sekitar orang Palestina, sekarang jantungnya dicaplok. “Ini kan kejahatan yang mengabaikan semua resolusi yang pernah ada, termasuk di PBB. Jadi saya kira, Indonesia harus lebih keras berdirinya,” kata Fahri.

Soal adanya gerakan-gerakan untuk memboikot produk-produk AS? Sebagai gerakan sosial itu sangat positif, biar Amerika bangkrut sekalian karena kelakuan presidennya itu. “Dan Amerika harus segera menyelesaikan Trump ini. Ini satu orang bikin pusing seluruh dunia,” katanya. (*/win)