Monday, 22 January 2018

Dikriminalisasi!

Sabtu, 9 Desember 2017 — 6:26 WIB
krim

SAYA sudah bantu Bapak, begini begitu. Bapak seharusnya membantu saya, dong. Bapak nggak tahu saya sekarang ini lagi digencet kiri kanan. Semua orang lagi ramai-ramai menghujat saya. Saya dibilang korupsi lah. Apa benar saya korupsi? Buktikan dululah di pengadilan. Eh, itu kasus sudah lama, sekian tahun yang lalu, kok baru diungkap sekarang ini? Pak, tolong saya Pak. Saya ini dikriminalisasi!“

Bang Jalil yang menerima telepon tersebut, nggak menanggapi. Nggak mudeng. “Apa sih Pak dikriminalilsasi? Sama nggak, sama relokasi, reklamasi pantai yang lagi ramai itu?” tiba-tiba sang istri bersuara.

“Bapak kan bukan ahli bahasa, Bu? Jadi mana kutahu istilah-istilah begituan?” jawab Bang Jalil.

Istri Bang Jalil diam, ngeloyor ke dapur. Ya, bagi masyarakat kecil memang nggak peduli soal istilah, apalagi yang berkaitan dengan kasus yang berbau politik. Bagi istri Bang Jalil, hanya berharap semacam harga sembako nggak naik. Terus itu, kayak gas 3 kg nggak menghilang? Kok kayak penjahat aja sih menghilang alias boron?

“Pak, gas melon kan langka? Harganya jadi naik. Jangan lupa uang belanja juga naik,” kata sang istri.

“Mohon disory Bu, kayaknya uang belanja hari ini kurang dikit nih, Bapak tadi kehabisan bensin! “ ujar Bang Jalil.

“Hemm, Bapak sudah mulai meng-kriminalisasi-kan Ibu, nih!” ujar sang istri.

Bang Jalil terbatuk-batuk sampai air kopinya muncrat dari mulutnya, dan sebagian memercik ke tubuh sang istri.

“Kalau kecipratan dana e-KTP mah nggak apa-apa, ini mah kopi..?” ujar istri Bang Jalil lagi sambil mengelap tubuhnya.

“Mau pakai baju oranye KPK?” kata Bang Jalil. Amit-amit jabang bayi, kata sang istri! -massoes