Saturday, 20 October 2018

Mal Rongsok, Tapi Omzetnya Ratusan Juta Rupiah

Selasa, 12 Desember 2017 — 0:29 WIB
Mal Rongsok di Kukusan, Depok (M02)

Mal Rongsok di Kukusan, Depok (M02)

DEPOK (Pos Kota) – Stereotype (penilain) masyarakat mengenai mal adalah tempat yang tampak elegan, rapih, dan tertata. Namun, hal itu langsung terpatahkan dengan adanya Mal Rongsok di Kukusan, Depok, ini.  Yang disajikan di mal itu adalah barang rongsok.

Bangunan itu tampak sederhana seperti sebuah toko biasa. Mal tersebut terletak di Jalan Bungur, Kukusan, Depok.  Tak sulit menemukan mal rongsok. Agar mencolok, sebuah spanduk berwarna merah bertuliskan “MAL RONGSOK” dipasang di bagian depan bangunan.

Depok mal rongsok2 M02

Pemilik Mal tersebut adalah Nurcholis Agi. “Saya dibantu sebelas karyawan,” kata Agi, nama sapaannya,  menerangkan saat ditanya berapa jumlah pegawai mal rongsok, Senin (11/12/2017).

Masuk ke bagian dalam mal rongsok ini, pengunjung langsung disuguhi pemandangan aneka barang bekas. Mulai dari majalah, radio, kaca, hingga onderdil mobil dapat ditemukan di sini. Meski hanya menjual barang bekas, Agi mengaku omset mal rongsok dapat mencapai Rp 100 juta per bulan.

Mal rongsok beroperasi mulai pukul 8 pagi hingga jam 5 sore. Tapi, jangan datang ke mal rongsok pada Jumat karena pada hari itu mal tutup. Itu pun ada permintaan khusus dari istrinya.

“Istri saya minta istirahat seminggu sekali,” ujar Agi sembari terkekeh. Di samping itu, ia memilih menutup mal pada Jumat karena biasanya pengunjung ramai pada Sabtu dan Minggu.

Meski demikian, masih banyak calon pembeli yang belum tahu jika mal rongsok tutup pada Jumat.  Walhasil, Agi harus menolak para pembeli yang datang dan meminta mereka kembali keesokan harinya.

Ia memaparkan, selama mengelola mal rongsok tak pernah kesulitan memperoleh barang yang akan dijual. Pengalaman bisnisnya selama belasan tahun menjadikan Agi memiliki banyak relasi.

Agi biasanya dihubungi jika ada lembaga atau institusi yang akan mengadakan lelang barang bekas.  “Bisnis ini tidak ada dukanya, hanya berduka kalau pas ada lelang saya tidak punya uang,” ujarnya berkelakar.

Jiwa bisnis memang sudah menjadi bagian dari hidup Agi. Sebelum mendirikan mal rongsok, suami dari Sulistyaningsih ini telah jatuh bangun mengelola berbagai macam usaha. “Total saya sudah pernah mencoba 29 jenis usaha,” ujarnya.

Kali pertama mengelola usaha pada 1987. Kala itu ia diserahi kedua orang tuanya untuk menjaga toko kelontong. Kemudian, pada 1991 ia beralih profesi menjadi penjaga apotek.

Tak puas menjadi pegawai, ia mencoba membuka usaha sendiri. Mulai dari bengkel motor, bengkel mobil, hingga reparasi elektronik pernah ia geluti. Uniknya, ia hanya belajar secara autodidak dalam membuka berbagai usaha yang ia jalani.

“Waktu saya buka bengkel motor, saya tidak tahu apa-apa tentang motor hanya bermodal kemauan saja,” kata lelaki 46 tahun ini.

Bukan tanpa alasan Agi mencoba berbagai macam usaha. Motivasi terbesarnya karena ia percaya bahwa orang yang memiliki banyak keahlian akan membawa manfaat bagi manusia yang lain. Meski beberapa kali mengalami kerugian, hal itu tak menyurutkan tekadnya. (Mo2/win)