Saturday, 20 January 2018

Harga Diri dan Harga Gas Melon

Sabtu, 16 Desember 2017 — 5:10 WIB
gajelaaaaaaaaa

Oleh S. Saiful Rahim

“KALAU saja agama tidak menyuruh, ingin rasanya aku masuk ke warung ini tanpa memberi salam,” kata Dul Karung sambil masuk ke warung kopi Mas Wargo.

“Apa beratnya sih sekadar mengucap assalamu alaykum?”tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk untuk pelanggan warung kopi itu.

“Ini bukan soal berat atau tidaknya mengucap assalamu alaykum, tapi meski Tahun Baru seminggu lagi baru tiba, suasananya kini sudah terasa.

“Apa-apa harganya sudah naik. Kecuali harga diri. Nah, kalau aku sebagai orang beragama dan warga negara yang beretika di mana harga diriku dong bila memasuki suatu tempat tanpa memberi salam dulu,” jawab Dul Karung sembari mengulurkan tangan mencomot sepotong singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Ah, kalau harga diri sih, sejak dulu kala setiap tahun turun terus. Sekarang barangkali benda abstrak yang namanya harga diri itu sudah tidak ada lagi,” tanggap orang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Tak ada lagi? Ah, masih ada kok. Cuma nilainya sudah jauh di bawah harga gas melon,” bantah orang yang entah duduk di mana, dan siapa pula namanya.

“Hahahaha,” tawa orang selang tiga duduk di kanan Dul Karung membuat hadirin terkejut dan heran.

“Menurutku yang nilainya jauh di bawah harga gas melon adalah kemampuan pejabat-pejabat tinggi kita menghitung. Entah di mana beliau-beliau itu dulu bersekolah,” sambung orang yang tertawa itu.

Tapi langsung dipotong oleh orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Jangan sembarangan menuduh pejabat kita, Bung! Mereka, eh maksudku beliau-beliau, amat sangat pandai. Sebelum memasarkan gas melon bagi rakyat miskin, pemerintah membagi-bagikan kompor gas secara gratis terlebih dulu.

“Dari jumlah kompor gas yang terbagikan itu kan bisa diperkirakan berapa banyakkah gas yang diperlukan oleh saudara-saudara kita yang belum mampu itu. Mestinya kan tidak ada cerita gas melon kurang stoknya, hingga susah dicari dan harganya melambung.”

Tetapi sebelum orang itu selesai bicara Mas Wargo yang biasanya tidak suka mencampuri obrolan langganannya tiba-tiba menyela, “Kalau begitu mungkin jumlah orang miskin sudah bertambah.”

“Semua bapak-bapak, dan juga Mas Wargo, salah,” tiba-tiba Dul Karung menyela sambil bangkit dari bangkunya.

“Sekarang ini dunia sudah tua. Mungkin Hari Kiamat sudah dekat, jadi banyak yang aneh-aneh. Ada orang yang menurut banyak dokter dengan aneka keahlian mengatakan orang itu sehat wal afiat, tapi orang tersebut ngotot mengaku sakit, walaupun akting sakitnya itu kayak pemain lenong picisan dari kampung,” sambung Dul Karung sambil melangkah pergi meninggalkan warung. (syahsr@gmail.com )*