Wednesday, 15 August 2018

Demi Nonton K-Pop Rela jadi Staf Kedubes RI di Korsel

Sabtu, 23 Desember 2017 — 1:30 WIB
Fauziah Fatin

Fauziah Fatin

TEKADNYA yang kuat untuk dapat menyaksikan konser boy band asal Korea Selatan, Dong Bang Shin Ki menjadi awal Fauziah Fatin, 29, bekerja di Kedutaan Besar RI di negeri ginseng tersebut.

Berbekal kemampuannya berbahasa Korea yang diperoleh lewat komunitas Bandung Hommy Korea Languange Club, dara lulusan sastra Inggris Universitas Padjadjaran Bandung ini berupaya untuk merealisasikan mimpinya bertemu sang idola.

Ujian seleksi penerimaan lokal staf kedutaaan besar yang dibuka Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menjadi langkah awal mewujudkannya. “Alhamdulillah setelah dites saya diterima menjadi staf dan ditempatkan di Kedutaan Besar RI untuk Korea Selatan sejak setahun lalu,” ungkap Fauziah saat di temui Pos Kota beberapa waktu lalu.

Menurut putri pasangan Suhendi dan Ny. Tati, tidak pernah sebelumnya terbayangkan oleh dirinya bekerja jauh di negeri orang. “Ya memang awalnya hanya karena pengin banget bertemu boy band Dong Bang Shin Ki jadi saya tidak berpikir bagaimana risiko hidup sendiri dan bekerja di negeri orang,” tukas perempuan asal Pasir Layung Atas, Bandung, Jawa Barat ini.

Dan iapun beruntung tidak perlu waktu lama untuk bertemu sang idola. Dimana suatu hari boy band tersebut berencana bakal menggelar konser di Jakarta. “Pak Dubes Umar Hadi ternyata mengetahui saya mengidolakan Dong Bang Shin Ki. Jadi saat mereka akan konser di Jakarta dan mengurus berbagai adminstasi melalui KBRI saya diajak beliau bertemu seluruh personel. Itu momen yang tidak pernah saya lupakan,” ungkap Fauziah yang mengaku sebelumnya bekerja di KONI Jawa Barat ini.

Lebih lanjut Fauziah mengungkapkan, bahwa bekerja jauh dari tanah kelahiran dan orang tua memang tidaklah mudah. Kesepian tak jarang menghinggapi. Terlebih saat jenuh mendera hati. Kesepian akan hidup seorang diri membuat Fauziah kerap bersedih. “Ya kalau lagi capek itu yang terasa sendiri banget. Sepi,” ucap Fauziah yang tinggal di sebuah rumah kos di kawasan Sillim Dong, Seoul.

Namun ia beruntung hal itu dapat ia atasi dengan padatnya berbagai kegiatan yang digelar di tempatnya bekerja. Mulai dari kegiatan pendampingan delegasi pemerintah ke Seoul hingga mengatur nota dinas dan lainnya. Tidak hanya itu keakraban seluruh pekerja di kantor, diakui Fauziah cukup mampu mengurangi kesepian dan kejenuhannya tersebut. “Mereka seperti keluarga ke dua saya,” ucap Fauziah.

Kehangatan layaknya keluarga begitu kental terasa saat bulan puasa dan Lebaran. Dimana seluruh pegawai tidak diperbolehkan pulang ke kampung halaman. Meski tidak sepenuhnya terbayarkan, kerinduan akan keluarga sedikit terlupakan saat berbuka puasa bersama. Hal lain yang cukup menghibur hati adalah kegiatan 17 Agustus untuk merayakan hari kemerdekaan RI yang begitu meriah dengan pelaksanaan berbagai perlombaan.

MAKANAN INDONESIA

Dikatakan Fauziah yang lahir pada 7 Desember 1988, kota Seoul sangatlah nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Mulai dari keamanan hingga kenyamanan dalam bertransportasi ia rasakan. Sehingga ia tidak perlu khawatir jika sekalipun harus pulang larut dari kantor.

“Seoul bisa dikatakan kota modern dan merupakan kota wisata. Pemerintah setempat sangat menyadari hal itu. Sehingga pelayanan dan kenyamanan dipikirkan bukan hanya untuk warganya saja namun juga turis yang mendatangi kota ini,” ujar Fauziah yang berharap ke depan Jakarta dapat setara dengan Seoul.

Kendati demikian, Fauziah tetap mengaku senyamannya hidup negeri orang lebih enak tinggal di negeri sendiri. Terutama menyangkut soal makanan.

“Di Seoul sangat sulit bahkan hampir tidak ada restoran khas Indonesia. Ini yang membuat saya tidak nyaman karena memaksa saya harus makan yang saya tidak doyan daripada harus kelaparan,” pungkas Fauziah berseloroh.(guruh/st)