Wednesday, 26 September 2018

Berawal dari Kenek Bus Kini jadi Bos Ayam Potong

Selasa, 26 Desember 2017 — 23:57 WIB
Rudi Chandra (tengah) bersama 6 karyawan PD Hiber Jaya milikya. (haryono)

Rudi Chandra (tengah) bersama 6 karyawan PD Hiber Jaya milikya. (haryono)

TIDAK ada hal yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha. Begitulah prinsip hidup yang dipegang Rudi Chandra, 43, pengusaha sukses. Memulai dari kenek bus kini menjadi pengusaha yang mengelola rumah potong ayam di Desa Lebakwangi, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten.

Berkat ketekunannya, produk usaha PD Hiber Jaya miliknya semakin besar. Bermodal selembar ijazah Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat 1990, Rudi mengadu nasib ke Jakarta.

Dia tinggal di rumah pamannya, di daerah Kampung Pulo, Jakarta Timur. Waktu itu, Rudi bekerja serabutan, mulai dari menjadi kenek bus kota, pedagang kaki lima, sampai pengemudi taksi.

“Agar tidak memberatkan keluarga paman, saya bekerja sebagai kenek bus. Kerjaan ini cukup beresiko karena harus ketemu preman, pungli, dan bergelantungan di pintu bus,” tutur dia yang mengaku berpenghasilan Rp5.000 sehari.

Untuk menambah penghasilannya, sesekali Rudi membantu menjual jam tangan di Pasar Mester, Jatinegara. Waktu berganti, Rudi akhirnya menjadi pengemudi metromini dan bus kota. Pendapatannya saat menjadi sopir meningkat menjadi Rp15.000 per hari.

“Meski kurang dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari, saya tetap berusaha untuk menabung. Setelah terkumpul saya mengambil kursus komputer. Saya pegang prinsip, tidak ada yang tak mungkin untuk meraih masa depan lebih cerah. Berkat kursus komputer, saya diterima bekerja di pabrik keramik pada tahun 1995,” ujar dia.

Rudi kemudian menjadi pegawai pengontrol mutu di pabrik di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Gajinya hanya Rp4.600 per hari. Namun, dia merasa beruntung tinggal di mess sehingga tak perlu memikirkan biaya tempat tinggal. Di mess itulah, Rudi kerap melihat ayam-ayam potong yang diternakkan.

“Ada pegawai yang ternak kecil-kecilan. Saya lihat dalam 30 hari saja sudah panen. Ini lumayan untuk penghasilan tambahan, saya jadi tertarik,” ujar dia.

Rudi mencari lahan untuk membangun peternakan. Dia mendapat informasi dari pegawai lain, banyak lahan yang disewakan di daerah Serang, Banten.

Setelah menjadi pegawai selama beberapa bulan, Rudi memutuskan keluar. Diapun mencari lahan sewa untuk beternak ayam. Pada 1996, dengan berbekal uang Rp3,5 juta dari pesangon ditambah tabungan, dia mendirikan kandang untuk 2.000 ayam dengan biaya Rp1,9 juta. Dia menyewa lahan seluas 5.000 meter persegi.

PANEN PERTAMA

“Panen pertama berlangsung setelah 35 hari. Penghasilan dari panen sebesar Rp 1,5 juta, saya gunakan untuk membuat kandang lagi,” kata Rudi.

Namun, hantaman krisis moneter tahun 1997 membuat Rudi bangkrut. Harga pakan serta bahan baku yang masih diimpor naik dua kali lipat. Sementara harga jual ayam potong tak berubah. Sewaktu masih beternak, pembayaran dari tengkulak juga lambat dia terima.

”Pembayaran (dari tengkulak) menunggu ayam habis dijual kepada para pedagang di pasar. Ini bisa sampai satu bulan baru lunas. Saya terpaksa harus sering mencari tengkulak,” katanya, kemarin.

Setiap bertemu pun, tengkulak membayar dia dengan mencicil. Setelah krisis mendera, Rudi terpaksa menyewakan kandangnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sewa kandang itu besarnya Rp250 per ayam. Selain itu, dia juga menjadi tukang bongkar muat sangkar ayam yang diangkut mobil.

“Selama enam bulan, saya bekerja seperti itu. Saya juga sempat menjadi sopir lagi. Tetapi pedagang itu susah membayar kalau ayamnya belum laku. Saya lalu berpikir, lebih baik menjual daging ayam saja,” cerita dia.

Hari pertama menjadi pedagang, Rudi mempunyai stok 10 kilogram ayam. Namun, saat itu hanya sepotong paha yang laku terjual, seharga Rp 1.500.

BELI MOBIL

“Saya memotong dan membersihkan sendiri ayam-ayam yang akan dijual di Pasar Ciruas. Dia menjaga kepercayaan pelanggan,” ujar Rudi.

Seiring dengan kemajuan yang dicapai, Rudi berhasil membeli minibus untuk kendaraan operasional seharga Rp8,5 juta. Pelanggannya pun bertambah, tak hanya pembeli di pasar, tetapi juga penjual sayur, pemilik rumah makan, dan penjual pecel lele. Ayam tersebut dia jual dengan sistem jemput bola. Kualitas ayam pun dia jaga. Lewat usaha itu, Rudi bisa memberikan lapangan kerja bagi 10 orang.

“Ada karyawan yang setia bekerja dengan saya sejak usianya masih belasan tahun. Sekarang dia sudah berkeluarga dan punya tiga anak,” ujar Rudi.

Lama-kelamaan, semakin banyak konsumen yang juga memesan ayam hidup kepada dia. Tahun 2004, Rudi bisa menjual 1.200 ayam per hari dan separuhnya dari hasil penjualan di Pasar Ciruas. Permintaan yang terus bertambah membuat dia menyerahkan penjualan di pasar kepada pegawainya. “Saya sudah berkonsentrasi sebagai pemasok,” ucapnya.

Seiring dengan perkembangan usaha, Rudi kemudian mendirikan badan usaha bernama PD Hiber Jaya. Dengan bendera perusahaan ini, dia memberanikan diri mengajukan pinjaman kepada bank untuk mendirikan peternakan. Kandang yang sebelumnya dia sewakan dia pergunakan sendiri lagi.

“Sekarang, ada 17 lokasi kandang yang tersebar di Kabupaten Pandeglang, Serang, Lebak, dan Kota Serang,” kata Rudi.

Produk yang dia jual adalah ayam beku dan ayam hidup. Sekitar 30 truk milik konsumen setiap hari hilir mudik ke tempat usahanya untuk mengangkut ayam.

Daya angkut setiap truk itu minimal 1.000 ayam. Kini, Rudi mampu menyalurkan sekitar 30.000 ayam per hari yang didistribusikan ke Banten, Jakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, sampai Kalimantan. Dia pun memiliki mitra sekitar 100 peternak mandiri dan 20 perusahaan.

“Jumlah karyawan di sini hampir 200 orang dengan 9 truk. Mereka tersebar di rumah potong ayam, kandang, dan pasar. Sebagian besar karyawan kami adalah warga sekitar sini,” kata Rudi seraya mengaku omset usahanya mencapai miliran rupiah per bulan. (Rachmat Haryono/ds)