Thursday, 19 September 2019

Jaringan Jerman Digulung Polda Metro

Wanita Kurir Ini Mengaku Selundupkan Sabu di Pembalut

Rabu, 27 Desember 2017 — 21:26 WIB
Tersangka penyelundup sabu dan pil ekstasi (yendhi)

Tersangka penyelundup sabu dan pil ekstasi (yendhi)

JAKARTA (Pos Kota)- Polisi masih terus mengusut kasus penyelundupan 10 Kg sabu dan ekstasi 20 ribu butir pil ekstasi merah muda dengan logo Hello Kitty dari Jerman yang rencananya disebar saat perayaan Malam Tahun Baru 2018 nanti.

Polisi mencari jaringan hingga ke akar-akarnya termasuk kurir yang dimanfaatkan bos bandar narkoba kelas kakap ini.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Suwondo Nainggolan, Rabu (27/12/2017) menjelaskan jaringan ini tentu banyak melibatkan pihak. Termasuk kurir yang diperankan wanita. Salah seorang yang diamankan polisi adalah DCS.

Tersangka DCS mengaku telah lima kali menyelundupkan narkotika ke Indonesia dengan imbalan Rp10 juta setiap sekali pengiriman. Wanita ini mengaku menyelundupkan sabu dengan modus memasukkan barang haram itu ke pembalut yang kemudian dikenakan.

“Kami hanya diperintahkan mengambil barang paket makanan di Kantor Pos jumlah dan tujuan tidak tahu. Perintah-perintah selanjutnya bahwa ini harus dipecah, kalau saya sebelumnya sudah lima kali disuruh artinya saya pernah menjadi kurir dari Malaysia ke Indonesia. Naik pesawat,” kata DCS saat diintrogasi Polisi di depan awak media.

(Baca: Jaringan Jerman Digulung, 10 Kg Sabu Untuk Malam Tahun Baru Disita)

Menurut DCS, ada cara khusus agar penyelundupan mereka tidak terbongkar oleh petugas dan lolos dari pintu metal deterctor saat keluar dari bandara. Mulai dari memasukkan sabu ke dalam pembalut dan dipakai mereka juga diharuskan tidak mengenakan celana atau baju atau membawa barang yang mengandung besi atau logam.

“Caranya orang yang memberikan barang dari sana sudah memberikan paket ke kita dalam bentuk pembalut kita pakai kemudian diharuskan jangan menggunakan pakaian yang bisa ketahuan di metal detector jadi tidak boleh ada besi tidak boleh ada logam, bajunya harus seperti itu dan wajib keluar melalui bandara Kriya 2 (Bandara Soekarno Hatta) dan naik Air Asia, setiap pengiriman saya dapat Rp10 juta,” ungkap DCS .

Komunikasi mereka lakukan menggunakan aplikasi Wechat dan akan dilanjutkan dengan pertemuan hingga penerimaan barang. Meski begitu, wanita itu enggan menyebutkan identitas yang telah memberikan perintah dengan dalih tidak kenal, dengan jaring Jerman DCS hanya mengaku mendapat peritah mengambil barang dikantor pos. Dia juga tidak menyebut adanya keterlibatan pihak maskapai atau oknum petugas bandara.

“Saya hanya kurir tidak tahu soal itu karena memang dikondisikan seperti itu kalau di kriya dua itu pengamanannya sangat kurang artinya tidak ada pengecekan tubuh sama sekali,” pungkas dia. (yendhi)