Thursday, 26 April 2018

Polres Jakarta Barat Tembak Mati Tujuh Bandar Narkoba

Jumat, 29 Desember 2017 — 15:54 WIB
Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Hengki Haryadi (yendhi)

Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Hengki Haryadi (yendhi)

JAKARTA (Pos Kota) – Jajaran Satresnarkoba Polres Metro Jakarta Barat serius dalam memberantas peredaran narkotika di wilayahnya. Terbukti, 1.552 pelaku diamankan dengan tujuh orang bandar ditembak mati dan tiga dilumpuhkan.

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi mengatakan, sepanjang tahun 2017 kasus penyalahgunaan narkotika naik hingga 27 persen dibanding tahun 2016.

Tercatat, tahun 2016 terdapat 970 kasus dengan 554 kasus ditangani Satresnarkoba Polres Jakbar dan 416 ditangani polsek jajaran. Sedangkan tahun 2017 terdapat 1.231 kasus dengan rincian 561 kasus ditangani Satresnarkoba Polres Jakbar dan 670 kasus ditangani polsek jajaran.

“Sedangkan crime indeks narkoba mengalami peningkatan 27 persen. Artinya, berbeda karena semakin aktif polisi menindak maka semakin naik,” ucap Hengi di kantornya, Jumat, (29/12/2017).

Dari total 1.231 kasus polisi mengamankan 1.552 pelaku dengan rincian laki-laki 1.449 orang dan perempuan 103 orang. Sedangkan barang bukti yang diamankan lebih dari 75 kilo sabu, 20.433 butir ekstasi, 42 kilo ganja, 85.358 butir psikotropika, dan 167 gram tembakau gorilla.

Kasat Serse Narkoba Polres Jakarta Barat AKBP Suhermanto mengatakan, pihaknya akan terus memberantas peredaran narkoba termasuk membongkar sindikat dibeberapa wilayah diantaranya Kampung Ambon dan Boncos. Tidak hanya itu, tempat hiburan malam juga akan menjadi fokus pemberantasan.

“Kalau titik ada beberapa tempat, dan sudah dilakukan pembersihan seperti kampung Ambon. Itu kan menjadi tempat transaksi. Dan, upaya-upaya oleh polres Jakarta barat dan kampung Ambon telah bersih. Kalau bersih 100 persen sih enggak tapi sudah jauh berkurang. Mungkin hampir 90 persen dan sekarang tinggal sisa di sekitar kampung Ambon,” kata Suhermanto.

“Kedua di Boncos. Boncos ini kan sudah menjadi sarang narkoba sejak 1996. Dari Tanah Abang, karena Boncos itu tanah kosong maka dipakai dari yang di Tanah Abang. Buat bedeng, jadi sarang narkoba,” lanjut Suhermanto menyudahi. (Yendhi)