Saturday, 15 December 2018

Sosok Ahed Tamimi, Remaja Palestina yang Berani Menampar Tentara Israel

Sabtu, 30 Desember 2017 — 20:28 WIB
Ahed Tamimi telah berulang kali menghadapi langsung tentara Israel.

Ahed Tamimi telah berulang kali menghadapi langsung tentara Israel.

PALESTINA- Ahed Tamimi, gadis remaja 17 tahun asal Palestina saat ini ditahan pasukan keamanan Israel karena menampar prajurit Israel dalam sebuah protes di Tepi Barat.

Video yang menjadi viral menunjukkan Ahed dan sepupunya Nour (21 tahun) mendekati dua tentara Israel dan meminta mereka pergi, sebelum akhirnya mendorong, menendang dan menampar mereka.

Kedua tentara bersenjata itu tidak menanggapi upaya yang terlihat memancing, bukan menyakiti dengan serius itu. Mereka mundur setelah ibu Ahed, Nariman, ikut terlibat.

Ahed, gadis berambut keriting berwarna pirang itu pun lalu dipuja oleh orang Palestina sebagai pahlawan yang berani menentang pendudukan Israel di Tepi Barat.

Di media sosial dia dijuluki “senilai seribu lak-laki” dan dipuja atas “keberaniannya melawat penjahat yang menghakimi anak-anak.”

“Perempuan Tamimi tidak takut dengan tentara. Mereka tidak takut dipenjara,” tulis aktivis Palestina Issa Amro di Twitter.

“Mereka terus berjuang sampai kita semua bebas.”
Bahkan Presiden Palestina Mahmud Abbas telah memanggil ayahnya dan memuji perlawanan keluarga tersebut terhadap pendudukan Israel, seperti dilaporkan kantor berita WAFA.

Bukan sekali itu saja tindakan Ahed menjadi pemberitaan dan viral.

Sebelumnya, beberapa tahun lalu foto yang menunjukkan dia mengepalkan tinju ke seorang tentara juga viral hingga Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Turki saat itu pun mengundangnya ke Şanlıurfa, selatan Turki pada 2012.

Pada 2015, muncul lagi foto yang menggambarkan dirinya mengenakan kaos Tweety Pie menggigit tangan seorang tentara Israel untuk menghentikan penangkapan saudara laki-lakinya.

Namun banyak di Israel menuduh keluarganya menggunakannya sebagai alat propaganda.

Keluarganya adalah aktivis ternama yang selalu berada di paling depan dalam demonstrasi di desa mereka Nabi Saleh dekat Ramallah.

Michael Oren, mantan Duta Besar Israel untuk AS dan saat ini menjabat wakil menteri untuk diplomasi, lewat twitnya menuduh keluarga Ahed mendandaninya dengan pakaian gaya Amerika dan membayar mereka untuk memprovokasi pasukan (Israel) di depan kamera.

“Menggunakan anak-anak yang kejam ini adalah bentuk kekerasan. Organisasi HAM harus menyelidiki!”

Namun ayah Tamimi menyangkal dan mengatakan bahwa perhatian yang diperoleh anaknya disebabkan rambut pirangnya.

“Jika dia menggunakan jilbab dan berkulit gelap, akankah dia mendapatkan perhatian yang sama?” kata Bassem Tamimi ke kantor berita AFP.

“Mesin propaganda Zionis selalu menggambarkan orang Palestina berkulit gelap dan jelek, menyerang korban berambut pirang, namun kali ini dia yang pirang.”

Menanggapi kritik atas keluarganya, Bassem Tamimi mengatakan “kami tidak perlu merespon atau membela diri kami,” dan mengatakan bahwa itu hanyalah cara mengalihkan perhatian dari usaha perlawanan mereka.

Insiden pada 19 Desember lalu membuat Ahed, ibunya dan sepupunya ditangkap pasukan Israel.

Pada Kamis (28/12), pengadilan militer memperpanjang penahanan Ahed dan ibunya, sedang sepupunya akan dikeluarkan pada hari Minggu jika tidak didapati barang bukti baru. (BBC)