Friday, 27 April 2018

Sudah Punya Dua Cucu Masih Mengejar Janda

Kamis, 4 Januari 2018 — 6:35 WIB
wistuek

MBAH Marto, 57, dari Surabaya ini agaknya sudah lupa umur. Cucunya sudah dua, masih mengejar-ngejar janda tetangga. Berhasil memang, tapi lalu sok pamer pada anak muda. Pemuda pun lapor ke istri Mbah Marto. Tak urung si kakek genit ini habis disemprot Ny. Warti, 54, bahkan ditantang cerai ke Pengadilan Agama.

Banyak manula yang merasa bangga ketika bisa memacari janda muda. Padahal jika ingat sama umur, tak perlulah berlomba-lomba mengejar kenikmatan sesaat. Jika tidak bisa bijak, bisa terjebak pada ungkapan lama: mengharapkan guntur di langit, air di tempayan ditumpahkan. Akhirnya ketindihan tempayannya sekalian!

Mbah Marto waga Keputih Surabaya secara pisik sudah mulai tampak tua. Tapi karena seleranya akan wanita masih lumayan tinggi, mencoba tampil muda dengan berbagai cara. Rambutnya yang mulai memutih diberantas dengan “ilmu hitam” alias pakai semir rambut. Lalu celananya pun selaku pakai jins, dan kemana-mana pakai kaos oblong. Jangan-jangan penampilan Presiden Jokowi akhir-akhir ini, malah niru Mbah Marto dari Surabaya tersebut.

Diam-diam Mbah Marto ternyata sedang naksir janda tak jauh dari rumah, Ny. Atikah, 35. Dalam usia segitu si janda idola itu memang masih tampak kenceng. Bodi masih mulus, pantat kenthel dan betis mbunting padi pula. Asal ketemu sijanda, Mbah Marto langsung pasang aksi di atas sepeda motor barunya, meski pinjam anak lelakinya.

Tidak sia-sia gaya promosi diri Mbah Marto. Buktinya janda Atikah bisa diajak jalan-jalan bareng boncengan motor. Rupanya dia bangga betul dengan prestasinya, sehingga pada anak muda di lingkungannya dia malah meledek. “Payah kalian semua. Masak dapatkah Atikah saja nggak bisa. Aku yang setua gini, hanya satu putaran langsung kena.” Ujar Mbah Marto.

Remaja tentu saja tersinggung dilecehkan sedemikian rupa. Kata Bung Karno dulu, pemuda harus mampu menggoyang dunia. Ini hanya menggoyang janda, masak nggak bisa? Ini pemuda cap apa? Terlalu! Maka para remaja itu berusaha menjatuhkan Mbah Marto dengan mengadu pada istrinya, bla bla bla……

Ternyata benar, Ny. Warti istri Mbah Marto termakan provokasi. Suaminya diomeli habis-habisan, tua bangka kok nggak tahu diri. Tapi si kakek rupanua terus saja nekad, macari Atikah. Suatu ketika kepergok istrinya pas bonceng-boncengan engan si janda. Langsung dilabrak. Si janda minta maaf tak lagi-lagi. “Kalau memang gatel, bilang sama aku, nanti saya kasih obat gatel,” kata Mbah Warti geregetan pada si janda.

Tak hanya sampai di situ. Hari berikutnya Mbah Warti membawa persoalan ini ke Pengadilan Agama Surabaya. Meski sudah diingatkan, ingat cucu sudah dua, tapi Mbah Putri tetap ngotot alkhotot membawa kasus ini ke hamba hukum. Dia ingin memberi pelajaran pada Mbah Marto, bagaiamana rasanya sudah tua, jauh dari bini.

Jika kena masuk angin, terpaksa Mbah Marto harus bersiul sendiri. (JPNN/Gunarso TS)