Sunday, 27 May 2018

TAHUN POLITIK

Kamis, 4 Januari 2018 — 5:13 WIB

Oleh H Harmoko

BANYAK orang menyebutkan bahwa 2018 merupakan Tahun Politik. Ada persiapan pilkada serentak di 171 daerah sekaligus dimulainya tahapan Pemilu 2019. Suhu politik dipastikan akan meningkat. Bisa ditebak pula, polarisasi masyarakat akan semakin terbuka.

Pada tahun inilah, juga awal 2019, semua suksesi kepemimpinan dari tingkat daerah sampai nasional digabung. Semua pemimpin nasional dipilih bersamaan, yakni DPR RI, DPD, Presiden. Artinya, tahun 2018 akan penuh dinamika politik.

Buat rakyat kecil, hiruk-pikuk perebutan kursi kekuasaan itu, baik di tingkat daerah maupun nasional, sangat mungkin bisa dijadikan hiburan. Bisa hiburan untuk melupakan beban kehidupan, tetapi bisa juga sebagai hiburan yang membosankan dan bahkan bisa mengancam rasa persatuan sebagai sesama anak bangsa.

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, hiruk-pikuk politik selalu memakan banyak energi, perhatian, dan waktu itu. Proses dan hasilnya pun bak pepatah Minang: baito-baito juo ‘begitu-begitu juga’.

Pada tahapan proses, rakyat disuguhi—bahkan dilibatkan—dalam pertengkaran politik. Setiap hari. Setiap detik. Tak peduli pertengkaran itu terkait dengan hal-hal substansial atau tidak, tidak mereka pentingkan.

Elite politik kita sepertinya memang lebih suka ¬noise (suara keberisik) ketimbang voice (suara murni yang beresensi tinggi). Mereka mengajarai masyarakat bermain silat lidah, membesar-besarkan atau sebaliknya mengecilkan masalah, tokoh, kelompok, dan lain-lain. Semua terjadi di luar nalar sehat.

Itu yang sudah-sudah. Dua dasawarsa sudah usia reformasi, reformasi yang kebablasan, belum dewasa juakah bangsa kita dalam menjalankan demokrasi? Haruskah pengalaman buruk seperti yang sudah-sudah itu berulang dan berulang?

Dalam setuasi seperti itu, baik eksekutif maupun legislatif sangat mungkin tidak bisa sepenuhnya fokus pada tugas-tugas pokoknya. Sudah tidak bisa menjalankan tugas pokoknya, apa iya malah akan membakar emosi masyarakat demi menjatuhkan rival politik?

Saatnya para elite kembali pada relnya, rel yang bermuatan nilai-nilai kebangsaan kita, Pancasila. Hindari politik adu domba, hidari penyebaran hoax atau berita palsu. Kalau ini masih terjadi, pertaruhannya sangat berat: disintegrasi bangsa. Mau? ( * )