Saturday, 17 February 2018

Kasus Kondensat

Jaksa Agung Harapkan Bareskrim Serahkan Honggo pada Tahap II

Jumat, 5 Januari 2018 — 20:35 WIB
Jaksa Agung M Prasetyo

Jaksa Agung M Prasetyo

JAKARTA (Pos Kota)  – Agar tidak menimbulkan kesan disparitas (perbedaan perlakuan),  maka Jaksa Agung M Prasetyo berharap Bareskrim Polri menyerahkan tersangka Kondensat Honggo Wendratno bersama dua tersangka lainnya dalam tahap kedua ke Kejaksaan Agung, agar penyelesaiannya secara serentak.

Honggo Wendratno yang menjabat Presdir PT Trans Pasific Petrochemical Indonesia (TPPI) kini,  tengah dirawat di Singapura. Namun sampai kini,  belum diketahui penyakitnya, hingga harus dirawat tidak di dalam negeri.

Dua tersangka lain,  adalah Djoko Harsono (Deputi Finansial Ekononi dan Pemasaram BP Migas) dan Raden Priyono (Kepala Badan Pelaksana BP Migas). Mereka tidak dalam status tahanan. Dugaan kerugian negara sebesar 2,7 miliar dolar AS setara Rp33 miliar lebih.

“Jila tidak,  dia sendiri akan dilakukan secara in-absentia (diadili tanpa kehadiran terdakwa),” ancam Prasetyo kepada wartawan usai Salat Jumat,  di Kejagung,  Jumat (5/1).

Ancaman in-absentia ini,  lanjut Prasetyo karena Kejagung sudah pernah melakukan persidangan in-absentia. “Jadi,  jangan kaget nanti, kalau misalnya in-absentia ini tentunya hukumannya lebih maksimal,” jelasnya.

Sesuai ketentuan perundangan,  dalam peradilan in-absentia hak-hak terdakwa hilang,  misal hak untuk membela diri dalam bentuk eksepsi dan atau pembelaan lain dalam persidangan. Otomatis hukuman badan menjadi maksimal.

Lari Terbirit-birit

Prasetyo menghimbau kepada Honggo yang tengah berada di Singapura untuk pulang ke Tanah Air, guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. “Kalau merasa tidak bersalah datang ke mari. Kenapa  takut?  Kalau lari terbirit -birit,  dia berarti merasa takut,” katanya.

Dia belum dapat melangkah secara fisik,  sebab kewenangan untuk menghadirkan tersangka masih berada dalam kewenangan penyidik Polri. “Belum menjadi lingkup kita, karena justru masih  menunggu penyerahan tersangka  dan barang buktinya dalam kaitan penyerahan tahap kedua.”

Berkas perkara Penjualan Kondensat Bagian Megara pada BP Migas2009 – 2011 dinyatakan lengkap,  Selasa (2/1) setelah sempat bolak-balik sampai empat kali antara Polri ke Kejagung.

Sebelum Kontrak

Dugaan tindak pidana,  pertama proses penunjukan langsung yang dilakukan oleh Raden dan Djoko. Kedua,  PT TPPI tidak mempunyai kapabilitas atau kemampuan untuk mengelola kondensat.

Lifting (pengambilan kondesat bagian negara)  oleh PT TPPI telah dilakukan secara tidak sah sejak,  23 Mei 2009 sebelum adanya kontrak antara dua pihak.

Padahal,  kontrak antara BP MIGAS dengan PT TPPI baru ditandatangani 11 bulan kemudian,  23 April 2010. Dengan masa kontrak disepakati berlaku surut,  sejak 23 Mei 2009. Selain itu,  produk hasil pengelolaan kondesat tersebut seharusnya diolah menjadi Mogas Ron 88.

Namun oleh PT TPPI dibuat elpiji,  di Tuban. Jawa Timur. Dan hasil kejahatan itu digunakan untuk mendirikan perusahaan PT Tubam LPG Indonesia (PT TLI)  yang dimiliki oleh Honggo.

Akibat perbuatan para tersangka negara dirugikan sebanyak kondensat bagian negara,  yang diambil oleh PT TPPI secara tidak sah,  yakni 33. 089. 400 barrel ekuvalen dengan 2, 7 miliiar dolar Amerika Serikat (AS) setara dengan Rp33 triliun lebih.

Dalam perkara ini telah dilakukan penyitaan asset berupa tanah dan bangunan, yamh di atasnya berdiri pabrik dan kilang LPG PT TLI yang berada dalam kawasan pabrik PT TPPI.

Lokasinya,  di Jalan Tanjung Dusun Tanjing Awar-Awar,   Desa Remen Tasikharjo,  Kecamatan Jenu,  Tuban,  Jatim.

Para tersangkat dijerat Pasal 2 ayat 1 UU Nomor 31/1999 tentang Tipijor Jo UU Nonor 20/2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana. Serta Pasal 3 UU Tipijor Nomlr 31/1999 Jo UU Nonor 20/2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.  Ancama penjara selama 20.tahun. (ahi/win)