Saturday, 22 September 2018

Pelatih Ini Miris Melihat Lapangan Tenis Tergusur

Jumat, 5 Januari 2018 — 0:55 WIB
Dedy Tedjamukti (paling kanan) bersama keluarga

Dedy Tedjamukti (paling kanan) bersama keluarga

SOSOK satu ini tak pernah lelah mengabdikan hidupnya untuk membangun olahraga tenis di tanah air. Dia adalah Dedy Tedjamukti, pelatih yang menghantarkan Angelique Widjaya hingga menembus peringkat 25 dunia.

“Jatuh bangun telah sering saya alami, baik sebagai petenis juga jadi pelatih di Tanah Air. Banyak suka atau pun duka yang saya temui sepanjang berkiprah di lapangan tenis. Tapi karena saya memang cinta tenis, semua yang saya alami itu tak menciutkan hati saya untuk terus membangun pertenisan di Indonesia,” kata Dedy kepada Pos Kota, beberapa waktu lalu.

Namun, seiring tergusurnya lapangan tenis di ibukota, Dedy mengaku miris akan masa depan pertenisan di Tanah Air. “Banyak bibit-bibit muda bagus untuk tenis di Indonesia ini. Hanya karena tak tertangani dengan baik, mereka tak muncul menjadi petenis kelas dunia seperti Angi (Anggelique Widjaya). Jadi untuk jadi Angi-angi lagi memang harus mimiliki kegilaan, tidak berfikir uang yang harus keluar dalam jumlah yang tak sedikit. Orang tua Angi dulu juga habi-habisan untuk menjadikan anaknya dapat masuk jajaran elit tenis dunia,” kisah Deddy tentang mantan petenis asuhnya dulu.

Deddy juga menyoroti ‘hilangnya’ lapangan tenis di Jakarta seiring waktu berjalan. Lapangan di Kompleks Kamayoran dan terakhir lapangan gravel yang penuh sejarah di Kompleks Senayan. Ketersediaan lapangan tenis telah cukup banyak membantu Indonesia memunculkan nama besar tenis seperti, Justedjo Tarik, Tintus A Wibowo, Suzana Angga Kusuma, Yayuk Basuki, Wynne Prakusya dan Angelique Widjaja.
BERUBAH FUNGSI

Sebagai mantan petenis, lanjut Deddy, dirinya tentu gusar dengan berubah fungsinya lapangan tenis yang dulu banya tersedia. Dulu di Monas saja terdapat lapangan tenis, sehingga banyak masyarakat yang gemar bermain atau pun berlatih tenis. Tapi dengan berubah fungsi kini ketersediaan lapangan tenis semakin sedikit, ujung-ujungnya mereka yang bermain dan berlatih tenis mau tidak mau juga menjadi berkurang.

“Semua ada sebab akibat, makanya jangan heran belakangan sulit kelihatan memunculkan petenis berkelas di negeri ini. Tapi itu buka jadi salah satu alasan, kita harus berbuat dan semoga dengan kesungguhan dan keseriuasan akan lahir kembali petenis yang bisa mengharumkan Indonesia di kancah dunia,” jelas Deddy yang cukup lama pindah haluan untuk menekuni bisnis.
Menurut Deddy, keseriusan dan fokus tidak bisa ditawar jika ingin lahir jadi petenis kelas dunia.

“Tidak bisa setengah-setengah, semua hal harus dilakukan dengan total. Entah itu total secara berlatih dan total pula menyediakan dana untuk mengikuti tour di luar negeri. Tanpa itu semua memang sangat berat untuk dapat muncul jadi petenis elit dunia,” ujarmya

Deddy berharap, dengan ‘kegilaan’ yang dimiliki Ketua Umum baru PP Pelti Rildo Anwar, petenisan di Tanah Air kembali akan menggeliat. Secara kebetulan dirinya pun dipercaya untuk menangani bibit-bibit muda Indonesia untuk tim yunior Indonesia.

“Semoga langkah awal baik ini akan menghadirkan hasil yang baik pula. Bibit-bibit muda kita tidak kalah dengan negara lain, hanya butuh totalitas dan kesungguhan dan tentunya uluran dana dari pemerintah. Tanpa semua itu akan bertambah berat jika ingin bisa memunculkan Yayuk dan Angi baru di masa mendatang,” tuturnya. (prihandoko/bu)
.