Sunday, 22 July 2018

“Uang Bisik-bisik” Penampungan Pedagang Blok G Tanah Abang

Sabtu, 6 Januari 2018 — 5:20 WIB
dullkar

Oleh S Saiful Rahim
“KE mana saja, Dul? Kok baru datang, biasanya hari gini sudah menghabiskan dua potong singkong goreng,” tanya seseorang yang duduk di dekat pintu masuk warung setelah menjawab ucapan assalamu alaikum dari Dul Karung yang fasih.

“Tengok Pasar Tenabang sebentar,” jawab Dul Karung sambil memanjangkan tangan menyambar singkong goreng.

“Gimana? Uda tertib?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Kalau tertib namanya bukan pasar, tapi orang antre di dokter gigi. Kalo orang sakit gigi, berapa pun jumlah manusianya, semuanya gak doyan ngomong. Apalagi bertengkar. Itu sebabnya mereka tertib,” kata Si Dul sambil mengunyah singkong dengan lahap.

“Jadi bagaimana keadaan Pasar Tanah Abang hari ini?” Kini giliran orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang yang bertanya.

“Kalo yang di depan stasiun kereta api sih sudah ada perubahannya, tapi Pasar Tenabang kan bukan cuma yang di depan stasiun kereta doang.Kalo kita longok keseluruhannya yang belum tertib jauh lebih banyak daripada yang sudah seperti di depan stasiun itu,” jawab Dul Karung meniru gaya yang seringkali dipamerkan para politisi pasaran.

“Pasar itu sebenarnya semacam makhluk yang susah diatur. Terjadinya pasar dimulai dari satu dua pedagang keliling yang karena letih berhenti di suatu tempat yang dirasa nyaman. Besoknya ada pedagang lain yang ikut melepas lelah di situ. Lusanya demikian juga. Lalu muncul pembeli karena di tempat itu ada banyak barang yang dibutuhkan orang. Lalu secara alami tempat itu jadi pasar,” kata orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.
Pakainnya necis dan omongannya jelas serta cerdas.

“Jadi pasar tidak memerlukan aturan?” tanya orang yang tak jelas siapa dan duduknya di mana.

“Bukan tidak perlu peraturan, tetapi rasanya tangan gubernur kegedean dong kalau hanya untuk mengurus pasar. Kan ada lembaga seperti PD Pasar Jaya? Serahkan saja urusan pasar pada lembaga itu. Sekarang kan ada hal yang jauh lebih besar daripada sekadar mengurus pasar, yaitu masalah TGUPP. Mulai dari soal anggotanya yang dianggap eks “pensiunan tim sukses,” juga dananya yang besar sekali. Rakyat lebih menunggu penjelasan soal itu dari Gubernur dibandingkan dengan urusan penertiban pedagang kaki lima Pasar Tanah Abang,” sambar orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Maaf aku mau kembali ke Tenabang lagi. Mau tahu bagaimana rencana pembangunan kembali Blok G? Siapa tahu di jalan nanti aku bertemu orang yang punya tanah luas dan bersedia menyewakannya pada PD Pasar Jaya, untuk penampungan sementara para pedagang Blok G? Kalau itu ada, dari “uang bisik-bisiknya” kan aku bisa bayar utang pada Mas Wargo,” kata Dul Karung seraya pergi.
(syahsr@gmail.com)