Monday, 16 July 2018

Pemberatan Hukuman Bagi Pemangsa Anak

Senin, 8 Januari 2018 — 6:00 WIB

PEMANGSA anak (pedofilia) masih terus berkeliaran di bumi Indonesia. Dalam sepekan kemarin saja setidaknya dua kasus kejahatan seksual terhadap anak telah terungkap.
Pertama di Tangerang, Banten. Seorang mantan guru honorer SD menyodomi 41 bocah lelaki. Sang predator memperdaya korban kejahatannya dengan menjanjikan ajian semar mesem.

Predator berpenampilan gemulai ini ditangkap polisi di rumahnya Kampung Sakem, Gunung Kaler, Tangerang. Korban sodomi predator Babeh rata-rata berusia 10 sampai 15 tahun.
Belum hilang dari pemberitaan, kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak juga terjadi di Bandung. Modus komplotan predator ini, yakni dua bocah laki-laki dipaksa melayani nafsu seks seorang wanita dewasa.

Bocah-bocah yang dipaksa melayani seorang wanita dewasa oleh sang ‘sutradara’ divideokan. Kini video asusila yang sempat viral di media sosial (medsos) itu langsung ditangani Polda Jawa Barat. Komplotan pelaku kejahatan anak-anak pun diburu.
Rentetan kasus itu, membuat publik meyakini saat ini Indonesia sedang darurat kejahatan seksual terhadap anak. Kawanan predator bergentayangan mengincar dan memangsa para tunas bangsa.

Polisi memang sudah berhasil dan terus memburu para predator anak. Namun, publik sebaiknya harus waspada terhadap pemangsa-pemangsa anak.

Bukan itu saja, demi melindungi anak dari kejahatan seksual, penegak hukum jangan ragu memberikan hukuman berat terhadap para predator karena perilakunya merusak dan membuat trauma generasi muda. Berikanlah hukuman berat bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

Memang UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak di antaranya mengatur setiap orang yang melakukan cabul terhadap anak-anak bisa dipenjara 15 tahun. Tetapi tidak ada salahnya bila predator anak juga dikenakan pasal berlapis dan ancaman pemberatan sesuai dengan UU Nomor 17/2016 tentang Suntik Kebiri. @*