Monday, 22 October 2018

Eksploitasi Seks Anak Negara Jangan Abai

Selasa, 9 Januari 2018 — 5:12 WIB

BEREDARNYA video tak senonoh adegan mesum seorang wanita dewasa dengan tiga bocah laki-laki di Bandung, membuat publik tersentak. Sebutan biadab pantas diberikan kepada orang-orang yang terlibat dalam pembuatan video tersebut. Hanya karena uang, mereka merusak moral anak-anak.

Pada kasus di Bandung sangat miris karena orang tua si anak ternyata terlibat. Satu anjal dibayar Rp300 ribu dan diajari berbuat mesum, lalu videonya dijual kepada jaringan internasional pedofilia dari Rusia. Sangat mengerikan bahwa anak-anak Indonesia kerap jadi objek ekploitasi seks demi memenuhi syahwat orang asing.

Terbongkarnya eksploitasi anak-anak jalanan (anjal), membuktikan bocah-bocah tersebut sangat rentan menjadi korban human trafficking atau perdagangan manusia. Tahun tim cyber Polda Metro Jaya juga membongkar sindikat pedofilia yang memiliki grup di akun Loli Candy’s dan mengoleksi 600 foto dan video cabul anak-anak. Jaringan ini terhubung dengan kelompok pedofil dari Jerman.

Eksploitasi seks terhadap anak-anak, kini jadi fenomena yang mengerikan. Pelaku bukan hanya perorangan, melainkan telah membentuk komunitas melibatkan jaringan internasional. Bukan hanya dicabuli, aksi tak senonoh juga dibuat film dan dijual. Belum lama ini, polisi juga menangkap seorang lelaki Jepang yang mencabuli anak jalanan penjual tisu.

Kasus-kasus eksploitasi anjal, sebetulnya ibarat gunung es. Hanya sebagian kecil yang terungkap, sedangan kasus sesungguhnya jauh lebih banyak. Bisa jadi korban-korban ekspolitasi banyak yang tidak melapor karena buta hukum, atau takut. Padahal bila kejadian ini dibiarkan, sama saja membiarkan moral anak-anak menjadi rusak dan membiarkan penyakit berkembang.

Terus berkembangnya eksploitasi anjal menimbulkan pertanyaan, dimana kehadiran pemerintah ? Negara melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPPA), Kementerian Sosial, Kemenkes dan lembaga sosial bertanggung jawab melindungi, menjamin hak-hak anak termasuk anjal.

Pemerintah maupun lembaga sosial pemerhati anak jangan abai. Kita bukan membutuhkan kalimat-kalimat normatif, ungkapan rasa prihatin, atau desakan kepada aparat untuk menangkap pelaku eksploitasi. Langkah penting adalah tindakan nyata, baik preventif maupun represif. Langkah preventif lebih dikedepankan dengan mengatur, membina dan memenuhi hak azazi anjal.
Regulasi baik dari pemerintah pusat maupun daerah sebetulnya sudah memuat hak-hak anjal serta kewajiban negara. Sayangnya, seperti hanya di atas kertas saja.**