Sunday, 18 February 2018

Berdayakan Pemuda dan Perempuan, Moeldoko Lantik Ketua Organisasi Sayap HKTI

Rabu, 10 Januari 2018 — 22:32 WIB
Jenderal TNI (Purn) Moledoko. (dok. biro media)

Jenderal TNI (Purn) Moledoko. (dok. biro media)

JAKARTA (Pos Kota) – Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko melantik Ketua Umum DPN Pemuda Tani HKTI, Rina Saadah Adisurya dan Ketua Perempuan Tani HKTI, Dian Novita. Pelantikan digelar di kantor DPN HKTI, Jalan Cokroaminoto 55-57, Jakarta Pusat, Rabu (10/12).

Pelantikan ini nerupakan langkah HKTI melakukan pembenahan dan pemantapan organisasi dan kader-kadernya. Walaupun baru dilantik secara formal, namun kedua organisasi tersebut selama ini sudah banyak melakukan berbagai kiprah dalam kancah dunia pertanian Indonesia.

“Ini bentuk komitmen HKTI untuk turut melibatkan perempuan dan pemuda secara aktif dalam bidang pertanian. Seperti diketahui, kondisi regenerasi pertanian di Indonesia cukup mengkhawatirkan,” ujar Moeldoko.

Moeldoko menjelaskan, tugas kedua organisasi sayap HKTI ini adalah mengupayakan proses regenerasi petani berjalan. Selain itu, juga memaksimalkan peran permpuan di sektor pertanian.

“Mereka akan melakukan segala upaya agar pemuda kembali meminati sektor pertanian. Inovasi-inovasi untuk memgembangkan teknologi pertanian akan menarik minat pemuda zaman now,” jelas mantan Panglima TNI ini.

Sebagai contoh, HKTI telah mengembangkan pesawat drone untuk pertanian. Drone ini berfungsi untuk pemupukan dan menyemprotkan pestisida untuk hama tanaman.

“Hal-hal inovatif inilah yang akan dilakukan anak muda untuk sektor pertanian. Biarkan mereka melampiaskan kreativitasnya untuk pertanian. Nanti, mereka akan mencintai pertanian,” tambah Moeldoko.

Seperti diketahui, kondisi regenerasi petani Indonesia mengkhawatirkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, jumlah petani muda di Indonesia saat ini 3.359.587 dan tiap tahun terus berkurang.

“Ya, jumlah petani muda hanya 3,3 juta orang. Sementara luas lahan pertanian kita saat ini 7,78 juta hektar. Berarti harus bertani secara modern kan? HKTI harus memperkenalkan modernisasi dunia pertanian. Yaitu adaptif terhadap kemajuan teknologi pertanian namun tetap menjaga kekhasan budaya bangsa Indonesia,” tutur Moeldoko.

Sementara, Ketua Umum DPN Pemuda Tani HKTI, Rina Saadah Adisury mengatakan, Pemuda Tani memiliki komitmen menyukseskan program HKTI untuk mempercepat proses revitalisasi sektor pertanian Indonesia. Antara lain melalui sinergi yang kuat antara petani, permodalan, industri, dan pasar.

“Hanya melalui sinergi yang kuat, pemerintah dapat melindungi petani Indonesia secara terencana dan berkesinambungan,” tutur Rina.

Rina mengakui bahwa pertanian memiliki sejumlah krisis saat ini. Menurut Rina, krisis tersebut harus diatasi secara komprehensif, dari sisi kebijakan sampai pendampingan petani di level paling bawah. Karena penyelesaian yang bersifat parsial tidak akan mampu memberi solusi berkelanjutan.

“Sebagai tulang punggung negara, petani harus mendapatkan perlindungan sistemik dari negara dalam bentuk kebijakan dan pendampingan langsung. Termasuk perlindungan dalam menghadapi persaingan dengan produk-produk pertanian impor dengan tetap memperhatikan keunggulan komparatif dan kompetitif secara terencana,” jelasnya.

Meski demikian, Pemuda Tani HKTI memberikan apresiasi kepada Pemerintahan Jokowi-JK yang telah mencanangkan program Reformasi Agraria melalui land redistribution. Namun, Pemuda Tani juga melihat bahwa Reformasi Agraria juga bukan semata land redistribution dan pembagian lahan kepada kelompok tani yang tidak memiliki lahan garapan.

“Tetapi lebih dari itu adalah political will yang kuat untuk menyejahterakan petani. Bagaimana membuat petani tersenyum di negeri sendiri,” tandas dia.

Sementara Ketua Umum Perempuan Tani Indonesa HKTI, Dian Novita Susanto menyatakan, perempuan adalah pihak yang ikut berjasa pada proses budidaya pertanian tradisional. Kondisi ini ditandai dengan peran aktif perempuan dalam mengembangkan budidaya pertanian melalui keterampilannya.

“Perempuan turut andil mengembangkan pertanian. Di samping peran utama perempuan dalam pengambilan keputusan rumah tangga,” ujar Dian. (prihandoko)