Friday, 16 November 2018

Pengamat Nilai Parpol Panik, Usung Calon Saat Injury Time

Rabu, 10 Januari 2018 — 16:36 WIB
Pangi Syarwi Chaniago, pengamat politik dari UIN Syarief Hidayatullah

Pangi Syarwi Chaniago, pengamat politik dari UIN Syarief Hidayatullah

JAKARTA (Pos Kota) – Pengamat politik menilai partai-partai politik pengusung yang mendaftarkan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah pada injury time (saat-saat terakhir) merupakan bentuk kepanikan karena ketiadaan sosok mumpuni yang dijagokannya.

“Kepanikan itu lebih dikarenakan beban rendahnya elektabilitas jago yang diusung masing-masing partai, dan juga jumlah kursi mereka yang tak memadai untuk mengusung calon,” ujar Pangi Syarwi Chaniago, pengamat politik dari UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta, Rabu (10/1) itu.

Dengan kata lain, ia menambahkan, usungan para jagonya tidak memenuhi syarat sehingga akhirnya “dipaksa” waktu mepet (injury time) pendaftaran 8-10 Januari 2018 yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Mereka (ketua umum partai politik) tidak lagi mempersoalkan peluang menang atau tidaknya orang yang diusung,” jelas direktur eksekutif Voxpol Center Reaserch & Consulting itu.

PDIP “memaksakan” Puti Guntur Soekarnoputri untuk mendampingi calon gubernur Syaifullah Yusuf di Jawa Timur, setelah pasangan sebelumnya (Bupati Banyuwangi) Abdullah Azwar Anas mundur setelah munculnya video yang memojokkan dirinya.

Di sisi lain, Gerindra dan PKS terlihat ‘terpaksa’ ikut mengusung pasangan Gus Ipul-Puti setelah kedua parpol itu tidak mampu memunculkan calon sendiri, karena tokoh La Nyala Mattaliti tak mendapat respon dalam mencari pasangan. Sedangkan  PAN “terpaksa” mendukung Mensos Khofifah Indarparawansa, yang dijagokan Istana Negara.

Hal sama dilakukan PDIP di Sumatera Utara yang mengusung  Djarot Syaiful Hidayat (PDIP) – Sihar Sitorus (putra DL Sitorus) dimana Djarot SH terbilang gagal mempertahankan “singgasananya” setelah menggantikan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Di Kalimantan Timur, PDIP mengusung Kapolda Kaltim  Irjen Safarudin, yang semula diusung sebagai calon Wagub Kaltim dipasangkan dengan Cagub Sjaharie Jaang asal Partai Demokrat yang akhirnya mencuat pengakuan dikriminalisasi.

Belakangan, Irjen Safarudin digadang-gadang menjadi Cagub Kaltim berpasangan dengan Cawagub Rusmadi Wongso yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Kaltim). (rinaldi/win)