Friday, 27 April 2018

Tindak Spekulan Harga

Rabu, 10 Januari 2018 — 5:10 WIB

KENAIKAN harga beras yang terjadi sejak akhir tahun makin tak terkendali hingga minggu kedua bulan Januari. Kenaikan tidak saja pada beras premium, tetapi beras rakyat yang sebelumnya Rp10 ribu per kilogram menjadi Rp11 ribu sampai dengan Rp12 ribu per kilogram.

Menjadi pertanyaan, apakah kenaikan ini akibat seretnya pasokan beras dari daerah produsen ke konsumen atau terbatasnya stok beras.

Jika mengacu kepada data bahwa stok beras di Bulog saat ini masih berkisar 1,1 juta ton artinya cukup untuk 4 bulan ke depan. Dengan begitu stok dalam posisi aman. Tidak beralasan jika dikatakan kenaikan harga karena kekurangan stok.

Kalau stok tercukupi, lantas apa penyebabnya? Jawabnya boleh jadi karena tersendatnya pasokan dari sentra beras ke konsumen. Ini terletak kepada mata rantai distribusi yang perlu dibenahi. Faktor lain, ada penumpukan di gudang – gudang beras atau penimbunan barang.

Kepada faktor yang terakhir (penimbunan) dapat diduga adanya ulah oknum atau sekelompok orang yang mencoba mencari peruntungan dengan memanfaatkan situasi.

Itulah sebabnya pemerintah perlu segera turun tangan mengendakikan harga beras agar kenaikan tidak semakin liar yang dapat mempengaruhi laju inflasi akibat mnenurunnya daya beli masyarakat.

Sebab, yang sering terjadi kenaikan harga satu komiditas akan memicu kenaikan harga yang lain.

Melihat kalender musim tanam padi bulan Oktober, diperkirakan bulan Januari ini sudah memasuki panen raya. Kalau pun karena faktor cuaca setidaknya bulan depan, Februari sudah panen raya.

Di sela waktu itu jangan kemudian dimanfaatkan mafia pangan untuk menaikkan harga beras dengan cara menimbun barang.

Operasi pasar dengan mengguyur pasokan beras ke pasar – pasar tradisional harus segera dilakukan. Meski operasi pasar itu bagaikan pasukan pemadam kebakaran, tetapi setidaknya untuk waktu sementara dapat menekan kenaikan harga. Ini dapat dilakukan sambil menunggu puncak panen raya tiba. Jika tidak, kenaikan harga tidak terkendali. Ujungnya rakyat semakin susah.

Tahap berikutnya segera menurunkan Tim Satgas Pangan untuk melakukan pemantauan harga, utamanya merazia gudang sembako terhadap kemungkinan terjadinya penimbunan.
Tindakan tegas harus dilakukan kepada spekulan harga yang dengan sengaja menimbun barang untuk mencari keuntungan sebesar mungkin.

Langkah selanjutnya adalah upaya pengendalian harga yang dilakukan secara terus menerus dengan membenahi sistem distribusi.

Semua wajib proaktif, termasuk Bulog dan BUMD di bidang pangan sehingga kenaikan harga dapat dicegah, bukan setelah kenaikan harga baru dikendalikan. (*).