Friday, 27 April 2018

Kalau Sepi Mau Ngapain Suamipun Cabut Celurit

Kamis, 11 Januari 2018 — 6:15 WIB
pede

MERAYU bini orang tak harus pakai tutur kata, pakai SMS malah praktis. Maka Gandar, 30, jadi marah demi di HP istri ada pesan masuk berbunyi, “Di rumah sepi, ke sini dong!” Langsung saja emosi, kalau sepi mau ngapain? Maka pengirim SMS pun dicari. Begitu ketemu serta merta dibabatnya dengan clurit.

Gubernur DKI sekarang pilih puasa medsos. Sebab jika dibaca, isinya kebanyakan hanya meledek dan memaki-maki dirinya. Itu karena dia pejabat publik. Tapi untuk pejabat teras, maksudnya orang yang suka duduk-duduk di teras rumahnya, baca medsos justru sebuah kebutuhan pokok seperti sembako. Padahal dari sanalah sering pangkal emosi dibangun.

Gandar warga Kelurahan Setono, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan, Jateng, termasuk penggemar medsos. HP miliknya, juga HP istrinya, tak pernah sepi dari kegiatan japri-japrian lewat WA. Di rumah pun keduanya sering sibuk dengan HP masing-masing. Layar HP ditarik ke atas ke bawah, dibesarkan dikecilkan. Asyik banget deh pokoknya.

Sama sekali Gandar tak menyadari bahwa HP istrinya suka disalahgunakan untuk kepentingan negatip. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, saat iseng-iseng buka HP istri yang ketinggalan, eh….ditemukan kata-kata tendensius. “Di rumahku sedang sepi, ke sini dong!” Dilihat pengirimnya, ternyata si Prawito, tetangga lain desa. Memangnya jalau sepi rumahnya, lalu mau ngapain?

Gandar terus menganalisa kata-kata itu. Ujung-ujungan dibakar cemburu, karena dia mengambil kesimpulan: Prawito mengajak selingkuh. Dia kaget dengan hasil analisa sendiri. Langsung saja hatinya dibakar cemburu. Rayuan dan ajakan seperti ini harus dihentikan. Jika tidak, bisa wes hewes hewessss…..bablas bojone!

Saking emosinya, Gandar ingin bikin perhitungan dengan Prawito. Diam-diam dia bawa clurit untuk menemui lelaki yang diduga menjadi PIL istrinya, Marweni, 26. Maksudnya sekedar menakut-nakuti saja. Siapa tahu begitu melihat clurit langsung Prawito nyembah-nyembah mohon maaf.

Rumah Prawito di Noyontakan Pekalongan Timur segera ditemukan dan kebetulan orangnya ada di rumah. Langsung saja dia mempertanyakan, apa maksud kata-kata dalam SMS itu? Kenapa harus menunggu rumah sepi, jika sekedar untuk mengundang makan siang. “Atau kamu sengaja mau mengajak istriku makan bawah ya?” gertak Gandar.

Ternyata Prawito membantah kirim SMS tersebut. Clurit pun dikeluarkan, tapi tuan rumah tetap tak mengakui kirim SMS itu. Malah menantang uji kesahihan lewat ahli telematika. Oo, Gandar jadi naik pitam. Saking emosinya, clurit itu disabetkan ke punggung Prawito. Meski berkelit, tak urung sobek juga itu punggung dan keluar kecapnya cap Kuda Terbang.

Sementara Prawito dilarikan ke rumahsakit, Gandar pulang dengan tenang. Tapi tak lama kemudian polisi datang membekukknya. Pasal yang dikenakan, penganiayaan berat yang bisa menyebabkan kematian seseorang. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara.

Wah, gak bisa ikut Pilkada, dong! (JPNN/Gunarso TS)