Monday, 22 October 2018

Dibandingkan Pria

Peluang Wanita Meninggal Saat Terkena Serangan Jantung Lebih Besar

Kamis, 11 Januari 2018 — 8:07 WIB
ilustrasi

ilustrasi

INGGRIS – Kalangan wanita harus lebih berhati-hati, karena dari hasil penelitian terbaru disebutkan perempuan berpeluang dua kali lebih tinggi meninggal dunia setahun akibat serangan jantung dibanding laki-laki.

Penyebabnya, seperti terungkap dalam studi selama 10 tahun oleh ilmuwan Inggris dan Swedia,  adalah perempuan tidak mendapat layanan pengobatan yang sama dengan pria.

Tingkat keselamatan perempuan penderita jantung akan meningkat dramatis jika mendapat perawatan seperti bypass, operasi, dan obat statin.

Salah seorang peneliti, Profesor Chris Gale, mengatakan perlu perubahan persepsi bahwa serangan jantung hanya menimpa kelompok tertentu, seperti pria setengah baya yang kelebihan berat badan, penderita diabetes, dan perokok.

Penelitian yang mengkaji 180.368 pasien penderita serangan jantung selama 10 tahun lebih tersebut memperlihatkan,  bahwa perempuan berisiko dua kali lebih tinggi untuk meninggal akibat serangan jantung serius yang disebut STEMI dibanding pria dalam waktu setahun setelah serangan itu.

STEMI adalah jenis serangan jantung yang paling serius ketika pembuluh darah tersumbat sepenuhnya oleh gumpalan darah dan membutuhkan pengobatan mendesak.

Para peneliti dari Universitas Leeds di Inggris dan Institut Karolinska di Swedia yakin bahwa penyebabnya kemungkinan perempuan meninggal lebih tinggi adalah perbedaan layanan kesehatan yang mereka terima.

Perempuan yang menderita STEMI menurut penelitian- sampai 34% lebih rendah peluangnya untuk mendapat prosedur pengobatan untuk membersihkan penyumbatan pembuluh darah, seperti operasi bypass dan stent (atau tabung yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah)

Mereka juga 24% lebih rendah untuk mendapat obat statin, yang bisa membantu pencegahan serangan jantung kedua dan 16% lebih rendah untuk mendapat aspirin, yang berguna untuk mencegah penggumpalan darah.

Perbedaan perawatan itu masih terjadi walau petunjuknya jelas bahwa semua jenis pengobatan itu seharusnya diberikan kepada perempuan maupun pria.

Berdasarkan studi tersebut, ketika perempuan mendapat pengobatan yang disarankan maka jurang tingkat kematian antar kedua jenis kelamin menurun hampir di semua kondisi.

Profesor Chris Gale -yang berasal dari Universitas Leeds- mengatakan bias jenis kelamin juga terjadi atas penderita serangan jantung di Inggris, yang setiap tahunnya mencatat 124.000 pria dan 70.000 perempuan dirawat di rumah sakit karena serangan jantung.

“Ada konsepsi yang keliru di kalangan masyarakat umum dan para profesional kesehatan tentang seperti apa pasien serangan jantung. Biasanya, ketika kita berpikir tentang pasien serangan jantung, kita melihat pria setengah baya dengan berat badan berlebih, mengidap kencing manis, dan merokok.”

“Tidak selalu seperti itu: serangan jantung mempengaruhi spektrum penduduk yang meluas, termasuk perempuan.”

Menurut Prof Gale, berdasarkan kontak pertama kali dengan para petugas kesehatan profesional, kesempatan perempuan lebih kecil untuk mendapat uji diagnosa yang sama, yang menyebabkan 50% dari perempuan kemungkinan awalnya salah diagnosa.

“Hal itu mengarah pada seluruh jalur pengobatan. Jika Anda luput yang pertama, yaitu peluang paling awal untuk perawatan maka lebih besar kemungkinan Anda untuk kehilangan kontak yang berikut dan itu akan berkumulatif sehingga mengarah pada tingkat kematian yang lebih tinggi.”(BBC)