Tuesday, 11 December 2018

Syukurlah, Capres Ombyokan Batal Muncul di Pilpres 2019

Jumat, 12 Januari 2018 — 6:22 WIB
MK

MK kemarin memutus gugatan PT (presidential threshold) 20 % untuk Pilpres 2019. Isinya, menolak penghapusan PT dimaksud, sehingga parpol harus berkoalisi untuk bisa mengusung Capres. Syukurlah, kita batal punya capres ombyokan. Pemerintah bisa menghemat anggaran, dan rakyat tak perlu bingung karena jumlah Capres yang bejibun.

Setelah era reformasi, partai tumbuh bak cendawan di musim penghujan. Pada Pemilu pertama setelah kejatuhan Orde Baru (1999), pesertanya sampai 48 partai.

Ketika masa kemaruk politik sudah lewat, pada Pemilu 2004 pesertanya tinggal 24. Pemilu 2009 membengkak lagi jadi 44, dan Pemilu 2014 mengecil lagi jadi 10 partai saja.

Sebetulnya, 10 partai itu masih kebanyakan. Jika mau meniru demokrasi AS, jangan tanggung-tanggung cukup dua partai saja, misalnya: partai nasionalis dan partai agama. Tapi para benggol partai mana mau, karena di benak setiap Ketum, ingin jadi Presiden. Walhasil, partai nasional bejibun, partai agama juga ombyokan.

Lalu menjelang Pemilu 2014 munculah keputusan MK yang mengejutkan, Pileg dan Pileg 2019 dilaksanakan serentak. Bagaimana dengan PT untuk partai pengusung Capres? DPR dan pemerintah sepakat, pakai PT Pemilu 2014 saja, yakni 20 %. Artinya, parpol pengusung Capres harus memiliki minimal 20 % kursi DPR.

Parpol yang kadung membayangkan PT-nya nol %, sehingga otomatis bisa usung Capres sendiri, teriak-teriak tidak setuju. Analoginya orang nonton film. Masak karcis yang sudah dibuat nonton siang hari, malam bisa dipakai nonton lagi. Karena itulah mereka ramai-ramai menggugat ke MK.
Tapi sial, gugatan mereka kandas. MK tetap memberlakukan PT 20 % seperti yang diputuskan DPR. Mereka pun kecewa, sehingga menuduh MK sudah menjadi pengamat politik. Resiko negaralah bila harus mengeluarkan anggaran begitu besar jika terjadi Pilpres dua putaran.

Bagi rakyat sih, dua-tiga Capres cukuplah. Jika sampai 15 Capres misalnya, rakyat bisa bingung dan bisa pusing tanpa bisa disembuhkan puyer bintang tujuh. Bagaimana tidak bingung. Dua Capres saja perang medsos dan kampanye hitam begitu membahana, apalagi dengan Capres ombyokan. Semoga saja, Capres di Pilpres 2019 nanti benar-benar hanya dua pasang lagi. Kebanyakan, capek deh! -gunarso ts