Monday, 22 January 2018

Duit Pecahan Itu Diperlukan Ada Juga Pecah Karena Duit

Sabtu, 13 Januari 2018 — 6:03 WIB
bowo

DALAM ekonomi, duit pecahan sangat diperlukan saat bertransaksi. Sebaliknya dalam politik, dua tokoh bisa pecah gara-gara urusan duit. Kemarin terbetik berita, mantan Ketum PSSI La Nyala Matiliti menyatakan keluar dari Gerindra, karena Prabowo tak mengusungnya sebagai Cagub Jatim gara-gara dirinya tak mau bayar Rp 40 miliar.

Meski uang bukanlah segalanya, manusia jauh dari uang akan sangat menderita. Wajah pucat, gerakan tidak lincah, kurang bergairah dan kurang pede. Sebaliknya yang banyak uang, dokter bisa dibeli, zal rumahsakit mau diborong. Pendek kata, dengan uang segalanya bisa ditentukan, meski tidaklah mutlak.

Tapi meski uangnya bergepok-gepok, duit recehan juga masih membutuhkan. Sebab tak semua transaksi dengan uang segepok. Masak hanya untuk beli rokok, harus pakai uang ratusan merah? Itu bisa menyiksa pemilik warung, harus cari tukaran ke kios sebelah. Maka gara-gara tak ada duit recehan, transaksi bisa batal.

Duit bergepok-gepok itu sangat diperlukan, lebih-lebih di tahun politik seperti sekarang ini. Kemarin lewat konprensi pers di sebuah restoran, mantan Ketum PSSI itu mengungkapkan kekecewaannya pada Prabowo Ketum Gerindra. Gara-gara tak mau sediakan uang Rp 40 miliar, La Nyala yang Ketua Kadin Jatim itu batal diusung sebagai Cagub di Jatim.

Kubu Gerindra telah membantah statemen La Nyala. Jika ada permintaan, itu semata-mata untuk uang saksi, bukan untuk partai. Tak kurang dari Fadli Zon dan Ahmad Riza Patria telah menjelaskan, Gerindra tak pernah minta mahar untuk pencalonan. Justru partai yang mencarikan dana, kana jago-jago Gerindra memang tak punya uang.

Karena dikecewakan Gerindra, La Nyala pun menyatakan keluar dari partai tersebut. Akan halnya Gerindra sendiri, meski konprensi pers La Nyala itu bisa disebut pencemaran nama baik, takkan menuntutnya secar hukum. La Nyala adalah sosok berjasa bagi Gerindra saat Pilpres 2014.

Tapi La Nyala Matiliti yakin benar dengan tuduhannya itu. Bahkan kebaraniannya menggelar konprensi pers, terkesan dia sengaja mau menelanjangi Ketum Gerindra tersebut. Mana yang benar, hanya Allah Swt yang tahu. Yang jelas, di era gombalisasi ini jabatan gubernur menjadi proyek padat modal. Sebagaimana kata La Nyala, jangankan Rp 40 miliar, Rp 300 miliar juga ada. Tapi kasih rekomendasi dulu dong!

Pantas saja kini banyak gubernur yang dikejar-kejar KPK. Karena saat Pilkada harus banyak keluar modal, terpaksa cari uang pulihan dulu. Tapi ya begitulah, karena mainnya tidak rapi, akhirnya terjebak jadi napi. – gunarso ts