Friday, 27 April 2018

Gelar Musyawarah, HKTI Jambi Tegaskan Dukung Perjuangan Moeldoko

Sabtu, 13 Januari 2018 — 17:01 WIB
Jenderal TNI (Purn) Moledoko. (dok. Biro Media)

Jenderal TNI (Purn) Moledoko. (dok. Biro Media)

JAMBI (Pos Kota) – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jambi menggelar musyawarah tingkat provinsi untuk menentukan calon ketua baru periode 2017-2022. Bertempat di Hotel Novita Kota Jambi, Jumat (12/1), musyawarah ini dihadiri 11 Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK).

Pejabat Sementara (Pjs) HKTI Provinsi Jambi Usman Ermulan dalam sambutannya mengatakan, dirinya prihatian terhadap komoditas pertanian yang masih belum dapat mandiri.

“Perlu partisipasi aktif dari masyarakat dan pemangku kebijakan untuk membantu stabilisasi harga produk pertanian, peternakan dan perkebunan. Ini adalah program yang akan kita jalankan kedepannya,” ujar Usman Ermulan.

Usman Ermulan menegaskan, di bawah kepemimpinan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, HKTI akan berjuang keras membantu pertanian Indonesia umumnya, dan petani Jambi khususnya.

“Mulai hari ini, hanya ada 1 (satu) HKTI yakni HKTI di bawah kepemimpinan Bapak Jenderal Purnawirawan Dr. H. Moeldoko. Kita Berjuang, Bersama Petani bersatu untuk memajukan Pertanian Jambi dan Petani Jambi makmur sejahtera,” tegas Usman Ermulan.

Dalam kesempatan yang sama, mewakili DPN HKTI, Totok Sugiyarto menyampaikan, HKTI harus berpihak penuh mendukung program pertanian di setiap wilayah demi kesejahteraan petani Provinsi Jambi.

“HKTI akan komitmen mendukung program pertanian demi kesejahteraan petani di seluruh Indonesia. Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Musyawarah Provinsi Jambi dibuka,” ujar Totok Sugiyarto membuka musyawarah.

Ketua Umum HKTI Moeldoko mengatakan, HKTI wajib berupaya membantu pemerintah untuk terus mensejahterakan petani Indonesia pada tahun-tahun ke depan. Beberapa hal yang sudah dilakukan yakni pertama memperbaiki tanah dengan cara memuliakan tanah yang akan digunakan untuk pertanian.

“Para petani kami arahkan untuk tidak menggunakan pupuk non organik lagi. Beberapa daerah yang tanahnya rusak kami perbaiki agar lebih produktif lagi,” kata Moeldoko.

Kedua, sambung Moeldoko, meningkatkan produktifitas pertanian nasional dengan cara petani harus berkepastian melalui teknologi. Para petani yang menggarap lahannya harus meninggalkan cara tradisional yang kurang efektif karena ada hasil panen hilang 10 persen per hektarnya.

“Kami tidak mengenal kata semoga dari 5 ton menjadi 9 ton. Kami sudah membuktikannya dengan cara melakukan penelitian dan pengembangan teknologi,” ujarnya. (prihandoko)