Wednesday, 21 February 2018

Ihksan Leonardo Rumbay Calon Bintang Bulutangkis

Sabtu, 13 Januari 2018 — 1:59 WIB
Foto instagram

Foto instagram

PROVINSI Sulawesi Utara selain dikenal dengan alamnya yang indah, juga banyak melahirkan pebulutangkis top. Beberapa diantaranya; Lili Tampi, Jo Novita, Flandi Limpele, Greysia Polii dan Liliyana Natsir. Mereka adalah yang dilahirkan di Bumi Nyiur Melambai tersebut.
Kini ada satu calon pebulutangkis yang bakal menghebohkan jagat tepok bulu dari daerah tersebut. Dia adalah Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay.

Nama pebulutangkis kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara, 15 Januari 2000 ini mulai mencuri perhatian di pengujung 2016 lalu saat berlangsungnya event Master Junior 2016. Ikhsan belum genap berusia 17 tahun sukses memenangkan gelar di kelompok taruna atau 19 tahun ke bawah.

Prestasinya ini dianggap kejutan cukup beralasan karena ia mampu mengalahkan pesaing-pesaingnya yang rata-rata berasal dari klub-klub bulutangkis ternama di Indonesia. Sementara Ikhsan bukan datang dari klub hebat.

Ia hanya seorang murid kelas 11 yang ditempa di Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Jakarta, yang juga pernah melahirkan pebulutangkis hebat macam Icuk Sugiarto dan Susy Susanti.

Sukses Ikhsan juga tak terlepas dari polesan pelatih bertangan dingin yakni Luluk Hadianto. Mantan pebulutangkis nasional spesialis ganda putra inilah yang membentuk Ikhsan menjadi pemain andal. Mantan pasangan ganda putra nomor satu dunia 2004 bersama Alvent Yulianto ini pula yang memboyong Ikhsan dari kampung halamannya di Tomohon ke Ibukota pada 2015.

Ikhsan pun mengaku, sebetulnya itu bukan kali pertama ia datang ke tanah Jawa. Sebelumnya pada tahun 2011 ia sempat dikirim berlatih ke PB.Mutiara Cardinal Bandung.

“Tapi, di Bandung saya cuma tahan dua bulan karena rasanya ingin pulang terus. Mungkin, saat itu saya masih terlalu kecil,” kenang Ikhsan yang punya nama unik ini.

Namanya memang perpaduan kebhinekaan dalam keluarganya. Nama Ikhsan diberikan oleh kakek dari ayahnya yang berasal dari keluarga muslim. Sedangkan nama baptis Imanuel berasal dari keluarga ibunya yang Nasrani. Ikhsan sendiri mengikuti keyakinan sang ibu.

CUMA 2 BULAN

Cuma berlatih dua bulan, Ikhsan sudah dilanda home sick. Ia kembali pulang ke kampung halamannya dan berlatih di klub PB Mahawu. Saat tampil di Kejurnas Antar PPLP 2014 di Musi Banyuasin, Sumsel, Ihksan menempati posisi runner-up. Luluk lalu menawarinya untuk bergabung di Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan.

“Saya sempat datang ke SKO Ragunan. Tapi melihat fasilitasnya yang ,kumuh saya menolak dan balik kampung,” kenangnya.

Nah saat berlangsung Sirnas Djarum di Manado, Ikhsan tampil lagi namun kalah dari pemain andalan PB.Exist Jakarta, Gatjra Piliang Cupu di babak kedua. Luluk kembali menyodorkan tawaran. Ihksan akhirnya mengiyakan tawaran Luluk, apalagi ditambah kekecewaannya kalah dari Gatjra semakin berkobar semangatnya buat balas dendam.

Dengan doa restu dari kedua orang tua serta pelatih yang menggemblengnya sejak kecil Ikhsan pun memulai petualangannya lewat jalur SKO Ragunan di bawah tempaan Luluk Hadiyanto terhitung sejak 24 Juli 2015. Jadwalnya sudah tertata rapi. Pagi ia belajar di kelas, selepas makan siang hingga sore berlatih bulutangkis. Rekannya di SKO Ragunan memang tak banyak. Mengingat kapasitas yang terbatas, SKO Ragunan cuma bisa menampung 10 atlet putra dan 10 atlet putri.

Pilihannya menimba ilmu di SKO Ragunan akhirnya terbukti tepat. Ia mampu menggulung Gatjra di berbagai turnamen. Prestasi moncernya membuat PB Djarum kepincut merekrutnya sejak Mei 2017. Ia memang tak lantas pindah ke klub yang bermarkas di Kudus karena harus menyelesaikan sekolahnya di SKO Ragunan.

“Target terdekat saya menjuarai Olimpiade Yunior 2018 ini,” jelas pemain yang mempunyai tipikal permainan seperti Taufik Hidayat yakni smash backhand yang keras.
Prestasinya yang melesat ini membuat PB PBSI memanggilnya masuk pelatnas utama di sektor pratama di Cipayung. (bu/st)