Monday, 25 June 2018

Mengatur Gula dan Motor

Sabtu, 13 Januari 2018 — 5:42 WIB
dullala

Oleh S Saiful Rahim

“NAH kebenaran nih. Ada orang yang paling sok tahu, datang, “kata orang yang duduk di dekat pintu warung kopi Mas Wargo setelah menjawab salam Dul Karung dengan fasih.

“Apa yang kalian mau tahu dariku?” tanya Dul Karung sambil melempar bokong ke bagian kosong bangku panjang. Sementara tangannya diulur untuk mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Soal gula!” Mas Wargo yang biasanya tak suka ikut campur obrolan para pelanggannya, tiba-tiba saja menyambar seperti bensin didekati api.

“Ada apa dengan gula? Masih tetap putih dan manis seperti gadis idamanku kan?” kata Dul Karung yang disambut suara “huuuu” yang panjang dari para hadirin.

“Imlek masih jauh kok harga gula sudah mulai bergerak naik,” kata Mas Wargo sambil menyodorkan teh manis sebelum Dul Karung minta.

“Ada indikasi impor bahan baku gula rafinasi tahun lalu bocor ke pasar konsumsi,” kata orang yang bertampang intelek dan berpakaian necis yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Menurut Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada, di negeri kita ada dualisme pasar gula. Pasar pertama, pasar yang mempertemukan produsen dengan konsumen ritel. Di sini harga gula mencapai Rp 12.500 perkilo gram. Pasar kedua adalah pasar gula rafinasi yang mempertemukan produsen dengan industri pemakai gula rafinasi seperti industri makanan dan minuman. Nah, di sini harga gula cuma Rp 8.000/kg. Maka “permainan” pun muncul,” kata si tampang intelek itu lagi.

“Waduh, aku boten paham. Gak ngerti,” kata Mas Wargo sambil geleng-geleng kepala.

“Saya juga gak ngerti Mas. Kita ngomong yang gampang dan enak-enak aja deh,” sambar Dul Karung.

“Apa itu yang gampang dan enak?Ngomongin utang ya?” sela orang duduk tepat di kanan Si Dul.

“Jangan nyindir dong,” kata Dul Karung.“Kita kan bisa ngomong soal sepeda motor yang dibolehin lagi liwat di Jl MH Thamrin dan Jl Merdeka Selatan,” sambung Dul Karung sambil mengunyah singkong.

“Gimana sih kau Dul? Beberapa hari yang lalu kau tidak setuju sepeda motor dibolehkan lewat di Jl Thamrin, sekarang kok berubah?” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Kan sekarang katanya demi hak asasi. Kalo sudah bicara hak asasi, nantinya becak, delman, dan segala kendaraan yang kemarin dilarang liwat, harus diizinkan lagi. Kalo akhirnya lalu lintas kacau balau, kan orang tidak mau naik kendaraan pribadi seperti sekarang. Takut gila di jalan. Nah itu berarti tujuan melarang orang berlomba bawa mobil pribadi kan tercapai?” kata Dul Karung sambil dengan begitu saja meninggalkan warung. Tanpa membayar lebih dulu apa yang dia makan dan minum. (syahsr@gmail.com )