Thursday, 18 October 2018

Bagian (3)

Rejeki Turun, Tapi Pilkada Digelar Saat Banyak Niat Jahat

Sabtu, 13 Januari 2018 — 16:57 WIB
DR Darmoko, dosen Program Studi Jawa FIB UI, Depok.

DR Darmoko, dosen Program Studi Jawa FIB UI, Depok.

DALAM teropongan secara budaya Jawa, khususnya dengan sudut pandang primbon, pada bulan Pasa 1951 (16 Mei 2018 – 14 Juni 2018), kondisi dalam kurun waktu ini memiliki sifat oleh salaka lan rejeki (uang logam dan rezeki).

Pada saat seperti ini manusia akan memperoleh rezeki dalam arti yang seluas-luasnya, seperti kesehatan, kebahagiaan, kesejahteraan, dan ketentraman dalam bentuk uang, harta benda, serta kekayaan lain.

Situasi sosial politik pada saat ini manusia dan institusi akan mendapatkan kepastian dan kebenaran yang datangnya dari Tuhan, seperti pangkat, jabatan, dan rezeki dalam arti seluas-luasnya dengan mengekspresikan ucap syukur kepadaNya.

Saat Pilkada Serentak

Berikutnya, pada  bulan Syawal 1951 (15 Juni 2018 – 13 Juli 2018), bersamaan digelarnya Pilkada Serentak, yakni 27 Juni 2018.

Pada bulan Sawal 1951 (15 Juni 2018 – 13 Juli 2018), kondisi di dalam kurun waktu ini memiliki sifat akeh sedya ala (banyak niat jahat), manusia/institusi akan menghadapi permasalahan meskipun tidak terlalu berat namun tetap harus diwaspadai yaitu banyak niat/keinginan jahat, pada kurun waktu ini manusia/institusi hendaknya tetap memiliki stamina yang cukup untuk menghadapi kemungkinan gangguan yang akan menerpanya.

(BacaWindu Sengoro, Kondisi Politik dan Pilkada Diliputi Ketidakpastian)

Situasi sosial politik pada saat ini, meskipun sebelumnya mendapatkan rezeki dalam arti seluas-luasnya, namun terdapat sejumlah manusia dan institusi yang memiliki niat dan kehendak untuk merusak/mengganggu tatanan yang telah dicapai, seperti protes dan gugat menggugat unsur yang satu terhadap unsur yang lainnya.

Dulkangidah 1951 (14 Juli 2018 – 12 Agustus 2018), kondisi dalam kurun waktu ini memiliki sifat kinasihan sedulur (dikasihi/disayangi oleh saudara), manusia/institusi pada saat demikian ini akan mendapatkan sedikit tambahan rezeki dalam arti non fisik.

Ia berhasil dalam mengadakan negosiasi, pengembangan usaha, memekarkan jumlah relasi untuk kemajuan dan pengembagan diri.

Situasi sosial politik pada saat ini meskipun sebelumnya terdapat protes dan gugat menggugat manusia atau institusi satu dengan yang lain, namun di antara usnur-usnur tersebut bersedia untuk membangun relasi yang harmonis dan bekerjasama, sehingga mereka akan saling manyayangi dan mengasihi sebagai sesama saudara sebangsa dan se Tanah Air.

Besar 1951 (13 Agustus 2018 – 11 September 2018), konsisi dalam kurun waktu ini memiliki sifat utama wedi tur slamet (baik sekali, sangat utama, terpuji dan selamat), manusia/institusi di dalam saat seperti ini hendaknya memanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyelenggarakan hajat tertentu, membuka dan mengembangkan usaha, dan membangun jaringan relasi yang lebih luas.

Situasi sosial politik pada saat ini manusia dan institusi berupaya untuk menjaga rezeki dan anugerah yang telah diterima olehnya sebagai suatu amanah yang luhur dan utama untuk diimplementasikan kepada seluruh umat manusia agar terbangun tatanan masyarakat yang man, dami, dan sejahtera.

Sura 1952 (12 September 2018 – 11 Oktober 2018), kondisi dalam kurun waktu ini bersifat hera-heru oleh bilahine teka (tiada arah tujuan mengakibatkan munculnya mala petaka, ketidaktenangan hati dan datangnya kenaasan).

Dalam kondisi ini, manusia/institusi dalam saat seperti ini tentu harus lebih awas dan waspada karena ketiadaan situasi yang menentu dan ketidak hati-hatian akan mengakibatkan mala petaka yang menimpa kehidupan manusia baik secara individu maupun sosial.

Situasi sosial politik pada saat ini manusia dan isntitusi akan sedikit mendapatkan petaka sehingga, sehingga diperlukan kehati-hatian, awas, dan waspada dalam segala hal. Diperlukan pemimpin yang sabar dan soleh untuk mengendalikan suasana masyarakat yang hanya ikut-ikutan kesana-kemari tanpa tujuan yang jelas.

Sapar 1952 (12 Oktober 2018 – 9 November 2018), kondisi dalam kurun waktu ini bersifat becike samadya (sseyogyanya yang menengah/sedang-sedang saja, sederhana, humble, rendah hati), manusis/institusi dalam saat seperti ini hendaknya bersikap dan berperilaku tidak over/berlebihan, yang biasa, sedang, menengah saja, sederhana, dan rendah hati, namun juga jangan terlalu pelan-pelan atau lamban.

Di dalam hal aktivitas dan usaha bekerja seperti biasa tidak terlalu dikerahkan seluruh tenaga, sehingga akan menghasilkan produk yang optimal sesuai dengan aktivitas dan usaha yang dikerjakan. Situasi  sosial politik pada saat ini manusia, institusi, maupun pemimpin harus memiliki sikap dan perilaku rendah hati, sederhana dan tidak diperkenankan menonjolkan dan memamerkan keunggulannya dan bertindak berlebihan.

Pada bulan Mulud 1952 (10 November 2018 – 9  Desember 2018), kondisi dalam kurun waktu ini bersifat apesan, geringan, kepaten (bersifat naas, penyakitan, dan datangnya kematian), manusia/institusi dalam saat seperti ini hendaknya bersikap hati-hati, awas, dan waspada karena akan datangnya mala petaka seperti sakit, apes, dan kematian.

Bagi manusia secara individu harus menjaga kesehatan dan stamina, sedangkan bagi institusi, dunia usaha dan lain-lain harus memiliki akselerasi dan selebrasi yang memadai untuk menangkal segala ancaman yang datang dengan tidak mengadakan kegiatan yang beresiko tinggi.

Situasi sosial politik pada saat ini manusia dan institusi akan mengalami kenaasan oleh karena turun stamina sehingga perlu antisipasi agar tidak mengakibatkan kematian (bangkrut), seperti membangun citra baik, dengan berbuat kejujuran dan kebenaran, tidak berkedok dengan kepura-puraan.

Terakhir, pada bulan  Bakda Mulud 1952 (10 Desember 2018 –….Januari 2019), kondisi dalam kurun waktu ini memiliki sifat slamet samu barang gawe (aktivitas apapun yang dilakukan akan berdampak pada keberhasilan/keselamatan).

Manusia/institusi dalam saat seperti ini seyogyanya bersiap diri untuk melakukan aktivitas yang dapat mengembangkan dan memajukan diri dan usaha untuk meningkatkan jumlah produk. Situasi sosial politik pada saat ini manusia, institusi, maupun pemimpin akan mendapatkan spirit untuk beraktivitas secara lebih aman, nyaman, dan terkendali, karena akan mendapatkan jaminan stabilitas keamanan yang cukup baik.

Demikianlah sekelumit paparan tentang sistem pengetahuan di dalam kebudayaan Jawa dan hasil kajian situasi dan kondisi Indonesia pada tahun 2018 berdasarkan sistem pengetahuan yang berorientasi pada konsep klasifikatoris di dalam primbon Jawa. Semoga bermanfaat. (Habis)

*Penulis: Dr. Darmoko, S.S., M.Hum, pengajar di Program Studi Jawa, FIB UI, Depok.

(win)