Thursday, 26 April 2018

Bagian (1)

Situasi 2018 Dalam Teropong Primbon dan Budaya Jawa

Sabtu, 13 Januari 2018 — 14:20 WIB
Dalang wayang kulit yang juga pakar budaya dari FIB UI Dr Darmoko. (ist)

Dalang wayang kulit yang juga pakar budaya dari FIB UI Dr Darmoko. (ist)

JAKARTA – Pakar Budaya Jawa Dr Darmoko mengatakan, bila diteropong dari segi budaya Jawa, terutama secara Primbon, dalam tahun 2018 ada sejumlah kondisi, baik dan buruk.

Menurut Dosen Program Studi Jawa FIBUI itu,  pada 2018 masuk di dalam wilayah siklus windu sengara yang memiliki arti wewelak sing njalari cabar (wurung) (azab yang mengakibatkan gagal), prasetya ora bakal nglakoni (sumpah tidak akan menjalaninya), mokal utawa  nglengkara yen kelakon (tidak akan terjadi).

Dari cara pandang budaya Jawa juga, Darmoko menyoroti kondiri sosial, politik, dan ekonomi selala 2018. Karena menggunakan sudut pandang primbon, maka ia terlebih dulu membeberkan makna primbon. Berikut tulisannya, diturunkan dalam tiga bagian.

***

Pengetahuan Tentang Primbon

Primbon merupakan kitab warisan leluhur Jawa yang hingga sekarang masih memiliki daya fungsi yang signifikan bagi masyarakat sebagai pedoman untuk bersikap dalam menentukan suatu tindakan dalam kehidupan mereka.

Kitab tersebut berisi sistem pengetahuan yang berorientasi pada relasi antara kehidupan manusia dan alam semesta termasuk di dalamnya tentang pengetahuan tata ruang dan waktu. Konsep yang melandasi keberadaan primbon adalah bahwa kehidupan seluruh unsur di dalam alam semesta dalam menapaki kehidupannya tidak terpisahkan dari permasalahan ruang dan waktu.

Pada perjalanan kehidupannya, alam semesta memiliki fase-fase waktu tertentu dalam kerangka ruang-ruang tertentu. Konsep ini tidak dapat dilepaskan dari konsep magis, yang menekankan pada relasi antara alam makro dan alam mikro.

Terjadinya suatu kegoncangan pada kedua unsur alam tersebut secara timbal balik, artinya peristiwa yang terjadi di alam makro sebagai akibat dari ulah yang ditimbulkan oleh alam mikro, atau sebaliknya.

Konsep ini sesungguhnya berkaitan dengan sistem kesejagadan (kosmis), yang menekankan pada satu kesatuan kosmos (unity/padu dan wholeness/utuh), tidak terlepaskannya unsur yang satu dengan yang lain yang tertata secara harmonis.

Jika terjadi ketidakstabilan di antara unsur dalam alam semesta, manusia menggunakan strategi untuk menyelaraskannya, misalnya dengan upacara dan ritual.

erkaitan dengan itu agar tidak terjadi kegoncangan, manusia sebagai unsur yang memiliki akal budi di dalam alam semesta berusaha untuk menjaganya dan mempelajari serta menjadikannya alam semesta sebagai role model bagi kehidupan  mereka. Kesatuan antara manusia dengan alam pada hakekatnya kesatuan manusia dengan Tuhan.

Babon (induk) kitab primbon Betaljemur yang diterbitkan pada tahun 1939 oleh Soemodijojo Mahadewa (cetakan pertama), merupakan warisan Kangjeng Raden Adipati Danurejo, patih dari  Kangjeng Sultan Hamengku Buwono VI, Kasultanan Yogyakarta.

Oleh Kangjeng Sultan Hamengku Buwono VII Kangjeng Raden Adipati  Danurejo diperkenankan lengser bersumber dari dalam keraton Kasultanan Yogyakarta telah tersebar luagai patih dan oleh Kang Sultan Hamenku Buwono VII juga ia diangkat sebagai Pangeran Sentana bergelar pangeran Cakraningrat.

Pangeran Cakraningrat sesungguhnya cucu Kangjeng Sultan Hamerngku Buwono IV. Babon (induk) kitab-kitab primbon bersumber dari Pangeran Cakraningrat yang kemudian dikeluarkan oleh Ny. Siti Woerjan Soemodijah Noeradyo, yang merupakan cucu buyut Kangjeng Pangeran Harya Tjakraningrat.

Kitab-kitab primbon tersebut antara lain: Betaljemur Adammakna, Lukmanakim Adammakna, Atashadhur Adammakna, Bektijammal Adammakna, Shahdhatsahthir Adammakna, Qomarrulsyamsi Adammakna, Naklassanjir Adammakna, Quraysin Adammakna, Ajimantyrawara-Yogabrata-Yogamantra, dan Kunci Betaljemur.

Sistem Pengetahuan kejawaan di dalam primbon sangatlah luas dan berjumlah ratusan, yang membahas berbagai hal kehidupan manusia Jawa, seperti:  pengetahuan berumur panjang (hidup tentram), pengetahuan sastra gendhing pasatohan, pengetahuan tentang hubungan sex/ senggama (asmaragama), azimat-azimat, pengobatan (jampi2), pengetahuan yang bersifat rahasia (gaib) yang belum diketahui oleh masyarakat umum, kutipan dari bermacam-macam primbon Jawa pada zaman dahulu, dan mengenai pengetahuan olah kebatinan yang wajib dipelajari oleh manusia pada zaman sekarang.

Pengetahuan tentang sistem tata ruang dan waktu di dalam primbon Jawa telah dirakit secara baku dan seperti kita memahami tokoh-tokoh wayang dalam pergelaran wayang kulit purwa yang telah memiliki ciri, corak, dan pola yang bersifat stereotip.

Landasan pemikiran klasifikasi ruang dan waktu di dalam primbon memberikan pengetahuan kepada manusia bahwa terdapat relasi antara dunia manusia dengan alam semesta. Sifat, perilaku, dan karakter unsur-unsur di dalam alam semesta merupakan role model bagi kehidupan manusia.

Contoh nyata dalam konteks ini yaitu tentang sistem ideal bagi manusia yang hendak menjadi seorang pemimpin, yang diamanatkan agar meneladani delapan sifat alam semesta yang terdapat di dalam teks naratif  lakon Wahyu Makutharama (Asthabrata) dalam dunia wayang purwa, yaitu sifat surya (matahari), candra (bulan), kartika (bintang), akasa (langit), kisma (bumi), tirta (air), samirana (angin), dan dahana (api).

Contoh lain adalah tentang konsep “keblat papat kalima pancer” (empat penjuru arah dan yang kelima merupakan pusat). Di dalam konsep ini dilukiskan mengenai posisi manusia (individu, lembaga) sebagai pusat yang dikelilingi oleh lingkungan alam dari empat arah, barat (angin, pon), timur (air, legi), selatan (api, pahing), dan utara (bumi, wage), dan seterusnya. (bersambung)

(win)