Monday, 23 April 2018

Tentara Bersama Petani di Desa Ini “Berperang” Lawan Tikus

Sabtu, 13 Januari 2018 — 11:28 WIB
Danramil Juntinyuat Kapten Inf Dede  Kusmayadi (ketiga dari kanan),   Camat Juntinyuat Drs H Muhammad Nurulhuda,  M.Si dan Kuwu Juntinyuat Warno berkoordinasi dan para petani sebelum  gropyokan. (taryani)

Danramil Juntinyuat Kapten Inf Dede Kusmayadi (ketiga dari kanan), Camat Juntinyuat Drs H Muhammad Nurulhuda, M.Si dan Kuwu Juntinyuat Warno berkoordinasi dan para petani sebelum gropyokan. (taryani)

INDRAMAYU (Pos Kota) – Tentara di desa tidak hanya dituntut mahir kokang senjata, tapi juga harus bisa berperang melawan ikus di sawah. Sebab,  tikus atau Si Monyong itu merupakan hama tanaman padi musuh bebuyutan petani.

Tikus seringkali merusak tanaman padi. Efeknya  menurunkan pendapatan petani,  karena produktifitas gabah ketika dipanen hilang dimangsa kawanan tikus antara 5 persen hingga 20 persen.

Jika produktifitas gabah setiap hektar rata-rata 6 ton,  kemudian tanaman padi itu sebelum dipanen diserang hama tikus,  maka petani kehilangan gabah sebanyak 1,2 ton.

Apabila harga jual gabah sekarang ini per Kilogram  Rp6.000,  maka petani menanggung rugi akibat hama tikus sebanyak Rp7,2 juta. Itu baru menyerang tanaman padi 1 hektar saja. Bagaimana kalau dalam 1 desa terdapat ratusan Hektar tanaman padi dan terserang hama tikus. Tentu jumlah kerugian yang diderita petani semakin besar.

Untuk menekan jumlah kerugian itulah Danramil Juntinyuat Kapten Inf Dede Kusmayadi bersama  Staf Kantor Kecamatan Juntinyuat, Perangkat Desa, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), para pemuda  dan para petani anggota Kelompok Tani yang dikoordinasikan Camat Juntinyuat Drs.H.Muhammad Nurul Huda,M.Si menyatakan berperang melawan tikus.

Lokasi perangnya di tanggul pembatas petak sawah atau pematang-pematang sawah yang ditengarai menjadi persembunyian tikus.

Camat Juntinyuat Drs. H. Muhammad Nurul Huda, M.Si mengemukakan dihubungi Pos Kota, Sabtu (13/1/18), kegiatan pembasmian hama tikus dilakukan rutin dengan cara keroyokan atau gropyokan yang dilakukan secara massal. Tujuannya menekan populasi hama tikus.

Gropyokan hama tikus itu dilakukan dengan cara menggali lubang tanah,  tempat persembunyian tikus, kemudian setelah mendapatkan Si Monyong itu langsung dibunuh dengan cara digebuk menggunakan kayu atau bambu dan bangkainya dikubur.

Pembasmian halam tikus rutin dilakukan para petani. Namun kali ini dibantu para Anggota TNI, Staf  Kantor Kecamatan  Juntinyuat, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), Perangkat Desa Juntinyuat dan para petani dan pemuda.

“Membasmi hama tikus itu  harus  rutin dilakukan, waktunya selepas masa tanam padi. Gropyokan tikus merupakan kegiatan pembasmian hama tikus dengan cara alami yang dinilai ramah lingkungan, karena tidak menggunakan bahan kimia,” kata Camat Muhammad Nurul Huda.

Danramil Juntinyuat Kapten Inf. Dede Kusmayadi menyebutkan, TNI memiliki komitmen menjaga ketahanan pangan Bangsa Indonesia.  Apa yang dilakukan TNI dalam gropyokan hama tikus ini merupakan sumbangsih TNI dalam mengawal Program Swasembada Pangan yang telah dicacangkan pemerintah. “TNI konsisten dan konsekuen turut mengawal program   pemerintah dalam rangka menjaga ketahanan pangan Bangsa Indonesia,” tutur Danramil Juntinyuat Kapten Inf. Dede Kusmayadi.

Kades (Kuwu) Juntinyuat,  Warno mengemukakan, gropyokan tikus itu merupakan sebuah upaya awal yang dilakukan untuk menekan jumlah populasi tikus yang waktunya dilaksanakan usai para petani selesai menanam padi.

Kegiatan itu dilakukan rutinh. Bukan sekali dua kali saja,  tetapi terus menerus atau berkesinambungan. Sebab yang namanya hama tikus itu tidak bisa dibasmi  tuntas hanya dalam waktu sehari. Perlu waktu yang panjang.

Kegiatan pembasmian hama tikus yang dikomandoi Camat Juntinyuat Drs.H. Muhammad Nurul Huda, M.Si  bersama Danramil Jutinyuat Kapten Inf. Dede Kusmayadi itu hasilnya ratusan ekor tikus mati terbunuh dan bangkainya langsung dikubur di lubang-lubang bekas persembunyian hama tikus.

“Perlu diketahui jika ratusan ekor tikus itu tak dibunuh sekarang ini maka beberapa bulan ke depan jumlahnya makin berkembang banyak. Mungkin mencapai ribuan ekor. Dan itu sangat membahayakan tanaman padi,” lata Kades Warno. (taryani/win)