Monday, 22 October 2018

Bagian (2)

Windu Sengoro, Kondisi Politik dan Pilkada Diliputi Ketidakpastian

Sabtu, 13 Januari 2018 — 14:41 WIB
Dr Darmoko, dosen FIB UI, saat pengukuhan doktor budaya Jawa beberapa waktu lalu. (ist)

Dr Darmoko, dosen FIB UI, saat pengukuhan doktor budaya Jawa beberapa waktu lalu. (ist)

SAAT ini bangsa Indonesia sedang mendapi hadapan besar Pilkada serentak. Pada tahun 2018 ini yang masuk windu Sengara (baca Sengoro), bia dilihat dari budaya Jawa, khususnya teropong primbon, masih ditandai ketidakpastian.

Namun, sebelum masuk ke masalah tersebut, sedikit kembali kepada penjelasan hal-hal yang ada dalam primbon. Pengantar di atas kiranya dapat dipergunakan sebagai landasan untuk menjelaskan bagaimana situasi kehidupan sosial, politik dan ekonomi bangsa Indonesia pada tahun 2018.

(BacaSituasi 2018 Dalam Teropong Primbon dan Budaya Jawa)

Di dalam kita menerapkan pengetahuan tata ruang dan waktu di dalam primbon, diberikan beberapa kerangka siklus windu (empat macam, masing-masing delapan tahun), satu tahun (12 bulan), bulan (29-30 hari), dan ’wara’ (5 dan 7 hari – yang masih aktual), dan hari (24 jam) yang semuanya berdasarkan pada peredaran bulan (komariah), yang berbeda dari siklus peredaran matahari (samsiah).

Windu terdiri dari empat macam, yaitu windu adi, kunthara, sengara, dan sancaya.  Dalam satu windu terdapat delapan tahun terdiri dari alip, ehe, jimawal, je, dal, be, wawu, jimakir. Sedangkan dalam satu bulan terdiri dari 29 hari atau 30 hari).

Adapun satu kurun waktu dalam ‘’wara”, tri wara hingga nawa wara, namun yang masih diaktualisasikan di Jawa adalah pancawara terdiri dari kliwon, legi, pahing, pon, wage dan saptawara terdiri dari senen, selasa, rebo, kemis, jemuah, setu, dan ahad (minggu).

Tentang jam untuk menghitung waktu di dalam satu hari dan pasaran. Kurun waktu tertentu dalam pembagian siklus tata ruang dan waktu tersebut memiliki sifat, karakter, situasi dan kondisi tertentu dalam konteks relasi antara manusia dengan unsur-unsur di dalam alam semesta.

Pada tahun 2018 masuk di dalam wilayah siklus windu sengara yang memiliki arti wewelak sing njalari cabar (wurung) (azab yang mengakibatkan gagal), prasetya ora bakal nglakoni (sumpah tidak akan menjalaninya), mokal utawa  nglengkara yen kelakon (tidak akan terjadi).

Disengarakake berarti ditibani sengara (wewelak) (dijatuhi azab, bencana). Welak itu sendiri bebenduning dewa (Allah) awujud kasangsaran lsp. (azab dewata atau Allah berupa penderitaan/ kesengsaraan dsb. Pada siklus windu sengara hendaknya dipergunakan untuk menyingkirkan atau menghindari segala hal yang bersifat negatif dan berupaya untuk mengeliminasi segala hal yang mengakibatkan kejatuhan suatu usaha.

Pada tahun 2018 jatuh pada tahun be (pawaka, geni = api, dapat membasmi), artinya bola-bali (selalu kembali, berulang). Sebagai strategi penawar sengara dengan mengadakan aktivitas (usaha) dan lain-lain dimuali pada hari Rabu yang memiliki sifat sembada, samubarang patut, meskipun rada sembrana (berkemampuan, memiliki daya kompetensi dan pantas dalam situasi apapun, meski agak kurang waspada). Sedangkan bulan-bulan pada tahun 2018 yang dikonversi ke dalam bulan Jawa, sebagai berikut:

Bakda Mulud 1951 (20 Desember 2017 – 17 Januari 2018), kondisi dalam kurun waktu ini memiliki sifat slamet samu barang gawe (aktivitas apapun yang dilakukan akan berdampak pada keberhasilan/keselamatan).

Indonesia dari perspektif sosial politik sedang bersiap-siap untuk melaksanakan pilkada serentak, penjaringan dan penetapan calon-calon pemimpin daerah.

Semua yang dilakukan oleh manusia/institusi masih dalam suasana keserasian dan keharmonisan. Bulan Jumadil Awal 1951 (18 Januari 2018 – 16 Februari 2018), kondisi dalam kurun waktu ini memiliki sifat geringen genti-genti (sakit-sakitan secara bergantian), kondisi dalam kurun waktu ini kesehatan dan stamina manusia/ institusi dalam kondisi yang kurang baik.

Situasi sosial politik diwarnai ketidakpastian dan ditandai oleh naik turunnya reputasi masing-masing manusia sebagai individu maupun lembaga.

Pada bulan Jumadil Akhir 1951 (17 Februari 2018 – 17 Maret 2018), kondisi dalam kurun waktu ini memiliki sifat oleh rahmating wong tuwa (mendapat rahmat dari orang tua).

Ini artinya dalam beraktivitas dan berusaha manusia akan mendapatkan rahmat, berkah, anugerah dari orang/institusi yang dipandang sebagai sebagai relasi yang telah lama dibangun. Situasi sosial politik pada saat ini belum menunjukkan reputasi yang membanggakan.

Saat bulan Rejeb 1951 (18 Maret 2018 – 16 April 2018), kondisi dalam kurun waktu ini memiliki sifat akeh prakara (banyak masalah), manusia/ institusi dalam beraktivitas hendaknya menghindari hal-hal yang tidak baik, negatif, dan dapat mencelakakan kehidupannya.

Sebab,  dalam kurun waktu ini akan didapatkan banyak permasalahan kehidupan, termasuk permasalahan ekonomi dan keuangan. Siatuasi sosial politik pada saat ini diwarnai oleh adu pendapat, adu argmentasi, dan kompetisi  antar manusia dan institusi semakin ketat bahkan timbul permasalahan yang kompleks.

Pada bulan Ruwah 1951 (17 April 2018 – 15 Mei 2018), kondisi dalam kurun waktu ini memiliki sifat rahayu slamet, nanging yen wis tiba brahat (kebahagiaan, ketentraman, kesejahteraan, dan keselamatan namun jika telah tiba saatnya pelaksanaan upacara selamatan pada bulan ini).

Manusia/institusi dalam kondisi ini hendaknya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mengadakan puja dan puji kepadaNya dengan cara dan agama masing-masing sehingga akan memperoleh keselamatan lahir dan batin.

Situasi sosial politik pada saat ini manusia maupun institusi apa pun akan terhindar dari petaka, mencapai keselamatan dan kesejahteraan namun dengan syarat tertentu, seperti menjalin silaturahmi dengan manusia dan institusi lain yang telah dibangun selama ini. (bersambung)

 

 (win)