Monday, 23 April 2018

PBHI: Penangkapan dan Penahanan Frederich Bukan Kriminalisasi

Minggu, 14 Januari 2018 — 17:20 WIB
Fredrich Yunadi, saat dijemput paksa KPK.(julian)

Fredrich Yunadi, saat dijemput paksa KPK.(julian)

JAKARTA (Pos Kota) – Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) tidak melihat ada kriminalisasi dalam penangkapan dan penahanan mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi.

Penangkapan pengacara kaya oleh KPK itu dianggap sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. “Advokat memang diberi keleluasan oleh undang-undang untuk membela kliennya. Namun, tetap ada batasan yang harus dipatuhi, semisal tidak melanggar hukum selagi melakukan pembelaan,” Sekretaris Nasional PBHI Julius Ibrani, Minggu (14/1),

Julius mencontohkan, suap menyuap atau berkomunikasi dengan pihak pengadilan (panitera atau hakim) dengan maksud untuk tawar menawar hukuman, bagi pengacara, tidak dapat dibenarkan meskipun melakukan atas nama klien.

“Kriminalisasi harus dimaknai tindakan yang tidak ada dasar hukum. Undang-undang nomor 18 tahun 2003 (UU Advokat) memang menjamin, baik di dalam maupun di luar pengadilan tidak dapat dituntut dalam menjalankan tugasnya dengan itikad baik membela klien,” kata Julianus, Minggu (14/1)

Istilah itikad baik bagi pengacara apabila dia menjalankan tugasnya beritikad baik dan berdasarkan perundang-undang. Sebaliknya kalau beritikad buruk dan melanggar UU itu bukan kriminalisasi,” terang Julius.

Fredrich ditangkap setelah mangkir dari panggilan penyidik untuk diperiksa KPK pada Jumat (12/1). Selain sudah dicekal, sedianya dia akan diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan menghalangi penyidikan KPK terhadap Setya Novanto. (us)