Sunday, 18 November 2018

Setelah Dua Tahun Menikah Baru Tahu Suaminya LGBT

Selasa, 16 Januari 2018 — 6:34 WIB
adegan

KELIHATANNYA Hendri, 35, ini lelaki normal. Tapi begitu lihat smartphone suaminya, Dewi, 28, terkaget-kaget. Ternyata Hendri ini lelaki anggota LGBT, karena doyan pula sesama lelaki. Kontan Dewi menggugat cerai. Pantes selama ini suami kurang hot diranjang, ternyata punya kelainan. Ibu mertua saja pingsan mendengarnya.

Dulu ada pelawak Kardjo AC/DC dari Palapa Grup. Dia lelaki asli, tapi berpenampilan bencong, karenanya disebut AC/DC, karena baterai bisa, listrik juga gak ngaruh. Di luar Kardjo yang berlagak bencong demi lawakan, tapi banyak juga di sekitar kita lelaki AC/DC atau yang istilahnya sekarang LGBT (Lesbi, Gay, Bisex dan Transgender). Jika di Jakarta, mereka banyak mangkal di Taman Lawang.

Semua berharap termasuk Ny. Dewi dari Mejoyo Surabaya, jangan sampai anggota keluarga ada yang punya kelainan seperti itu. Tapi sungguh tak dinyana, justru suami sendiri malah jadi anggota LGBT. Pantas saja usia 33 tahun Hendri baru mau menikah, itupun karena didesak-desak keluarga.

Penampilan Hendri sebetulnya tak normal-normal saja, sama sekali dia tak nampak sebagai lelaki yang punya kelainan seks. Tapi ya begitulah, bila teman-teman yang lain usia 25 tahun sudah mbanyaki pengin kawin, dia sampai usia kepala tiga masih tenang-tenang saja. “Mana ada yang mau sama saya,” kata Hendri merendah, setiap ditanyakan soal kelajangannnya oleh teman-teman.

Lantaran hingga usia 33 tahun belum juga menikah, keluarga kemudian menjodohkannya dengan Dewi, anak tetangga desa yang masih kerabat sendiri. Kebetulan Dewi juga bukan anak muda gaul yang kebanyakan medsos, sehingga meski menikah dengan cara dijodohkan, ya mau saja. Apa lagi secara kasat mata Hendri sudah mapan. Punya rumah, pekerjaan tetap.

Pernikahan terjadilah. Tapi sungguh di luar dugaan. Malam pertama yang biasanya selalu menjadi target penganten baru, bagi Hendri justru tidak. Siang resepsi, malam hari Hendri malah asyik nonton bola sampai larut malam, kemudian tidur di sofa ruang tamu. Tinggal istri di kamar tidur kelojotan salah tingkah. “Masih capek kali,” kata Dewi menghibur diri.

Hari-hari selanjutnya memang hambar sekali. Bila pengantin baru biasanya kemaruk, ibarat makan obat: 3 kali sehari sesendok makan, Handri paling-paling hanya seminggu sekali menyalankan tugas suami. Dan begitulah yang terjadi hari-hari berikutnya. Hari-hari panjang dilaluinya dengan dingin, dan Dewi benar-benar kedinginan. Maka tak mengherankan, sampai setahun pernikahan belum ada juga tanda-tanda kehamilan.

Sampailah kejadian belum lama ini. HP suami ketinggalan dan iseng-iseng membukanya. Ternyata di situ ada grup sesama lelaki ganteng, dan banyak juga foto suaminya bersama pria-pria tampan lebih muda. Melihat kata-kata yang menyertainya, Dewi jadi kaget, ternyata suami penyuka sesama lekaki.

Dewi pun lalu memanggil mertuanya, dan Hendri disidang dengan bukti-bukti yang ada. Dia sama sekali tak berkutik, bahkan kemudian menangis karena telah membohongi Dewi berkepanjangan. Ibu mertua pun sampai pingsan dibuatnya. Tindak kelanjutannya, Dewi menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. Dia kadung jijik punya suami seperti itu.

Punya suami suka “main anggar” kan bagus. (JPNN/Gunarso TS)