Saturday, 26 May 2018

Babe Uban Bertekad Terus Jualan Buku Bekas

Kamis, 18 Januari 2018 — 1:20 WIB
Babe Uban pedagang buku bekas

Babe Uban pedagang buku bekas

DIA enggan menyebutkan nama aslinya. Penggemar buku bekas dan buku langka di ibukota selama ini memanggilnya sebagai “Babe Uban”. Usianya sudah 67 tahun, ayah dari enak anak ini memang sudah ubanan. Dia “alumni” pedagang koran di Lapangan Banteng sejak tahun 1974, dan terus berjualan produk media bekas hingga kini.

“Dulu saya nggelar koran di depan Departemen Keuangan waktu masih ada terminal di Lapangan Banteng. Terus pindah ke daerah Kramat, Salemba. Terus ke sini, “ katanya, ketika ditemui di kiosnya di bawah ‘fly over’, dekat stasiun Commuter Line Tebet, Jakarta Selatan.

Kios Babe Uban merupakan salah satu kios buku bekas yang banyak dipromosikan oleh penggemar buku di dunia maya. Berlokasi di pojokan, dekat pangkalan ojek, harga dagangannyanya lebih miring dibandingkan dengan pedagang buku bekas di Pondok Cina, dekat kampus UI Depok. “Lha, yang di Pondok Cina ngambilnya di sini, “ kata Babe dengan tawa.

Berbeda dengan Jose Rizal Manua, pemilik kios buku di TIM – Cikini, yang pandai menaksir buku berdasarkan isinya, sehingga bisa berharga mahal, Babe Uban menaksir harga buku yang dijualnya berdasarkan fisik, ukuran dan ketebalannya.

Makin ‘baru’ kelihatannya, makin tebal, maka makin mahal. Meski demikian sebagai buku bekas, tetap saja jauh lebih murah dibandingkan yang dijual di toko buku.

Kios buku bekas Babe Uban juga menjual majalah dan i edisi khusus yang biasa dikoleksi kolektor (colector item), karena isinya tidak basi. Tumpukan buku yang ada sebagian merupakan novel, karya sastra, komik, majalah berita, majalah anak, dan buku buku memoar, psikologi dan lainnya.

“Bisnis koran, majalah dan buku bekas sudah tak sebagus dulu, “ kata Babe Uban. Semua sudah pindah ke online. “Ada ojek online, buku buku bekas juga dijual online, “ katanya lagi.

Di Tebet pernah mangalami masa kejayaan ketika menggelar di depan stasiun. Juga saat membuka kios, tak jauh dari sana. Tapi sejak akses jalan Tebet – Kampung Melayu, ditutup dan dipagari pengunjung kiosnya menurun drastis.

Ditanya suka dukanya berdagang buku, Babe Uban menyatakan, dirinya termasuk yang kurang begitu beruntung.

“Teman teman saya sesama pelapak di Lapangan Banteng sudah pada jadi orang sukses. Malah ada yang masuk teve, “ kata pria asal Dermaga, Bogor, Jawa Barat. “Ada juga yang dulu makmur terus rumahnya kerampokan, dan susah lagi.”

JARANG SAKIT

Dia tinggal di kios itu bersama anaknya yang keempat yang meneruskan usahanya. Sebulan sekali pulang ke Dermaga. “Anak anak saya pada putus sekolah, “ keluhnya.

Timbunan buku berisi ilmu nampaknya tak menggerakkan anak-anak Babe Uban untuk belajar dan mengubah nasib, lewat inspirasi dari ilmu di balik buku buku yang dijualnya itu. Tumpukan buku di kiosnya selama ini dianggap sebagai dagangan semata.

“Alhamdulillah saya baik baik saja. Jarang sakit. Paling juga pusing pusing, meriang, sakit kepala, “ katanya.

Dia ingin terus menjajakan buku dan terus menunggui kiosnya. “Habis apa lagi?” tanyanya balik.

Dulu pernah memiliki kemampuan bongkar jam. “Tapi sekarang mata sudah nggak kuat, “ katanya. (dms/st).