Wednesday, 21 November 2018

Becak, Coba Bawa Saya!

Kamis, 18 Januari 2018 — 6:26 WIB
becak

GENERASI jaman now bukan sekadar menyanyikan lagu becak. Tapi bakalan naik angkutan tersebut selain ojek dan ankot. Becak yang pernah menjadi angkutan andalan pada jaman beheula, kini bakalan muncul lagi di Ibukota, walaupun di wilayah terbatas.

Tidak jelas apakah ini menjadi kabar baik bagi penarik becak, atau sebaliknya. Toh, sekarang ini kan penarik becak sudah beralih ke kendaraan angkutan lain. Ada yang menarik Bajaj, ojek, dan taksi.

Boleh dibilang, gengsi penarik becak naik. Bukan lagi dipanggil sebagai tukang atau abang becak, tapi sopir atau pengemudi kendaraan bermesin. Dulu, becak memang merajai jalan-jalan utama di Jakarta. Tapi, seiring dengan perkembangan becak di ibukota sedikit demi sedikit menghilang, juga karena didesak oleh peraturan. Tapi, hilangnya becak juga tak lepas dari munculnya kendaraan angkutan bermesin, bajaj, helicak, ojek dsb.

Banyak yang bilang pada waktu itu, bahwa pekerjaan menarik becak itu tidak manusiawi, karena harus meggenjot dengan tenaga. Padahal, kita tahu, di Hongkong, angkutan tradisional yang disebut rickshaw itu ditarik oleh manusia, layaknya kuda penarik gerobak?

Tapi, ya sudahalah. Abang becak pada waktu itu kan juga nggak peduli, apakah dia harus menggenjot atau mendorong becaknya. Yang penting, bisa mencari nafkah.

Becak, sebenarnya sampai sekarang pun masih ada di daerah penyangga ibukota, termasuk Tangerang, Bekasi dll. Di solo, waktu Presiden mantu kan becak kebagian rejeki?

Nah, kalau kemudian Jakarta ada lagi becak, ya silakan saja. Yang penting nggak bikin masalah baru? Sekarang ini mengatur mobil dan motor saja kan sudah pusing, iya apa iya?
Eh, tapi kalau mau serius, becak, sepeda kan bisa menghemat bensin, dan mengurangi polusi udara? –massoes