Thursday, 18 October 2018

Uber Taksi, Uber Ojek, Becak Diuber-uber

Sabtu, 20 Januari 2018 — 5:12 WIB
katanyaaa

Oleh S Saiful Rahim

“APA tanda-tanda kemajuan masyarakat?” tanya Dul Karung kepada hadirin warung kopi Mas Wargo, segera setelah masuk dan duduk di bangku panjang.

“Hidup bersama teknologi,” jawab orang yang duduk tepat di sebelah kanan. Dia adalah orang yang bergeser, memberikan tempat Dul Karung duduk.

“Hidup bersama teknologi itu bagaimana?” tanya entah siapa dan duduknya di sebelah mana.

“Orang yang ketika naik eskalator di bagian timur lobi mal, melihat pacarnya di eskalator barat. Dia tidak teriak-teriak. Hanya mengontak via hape. Itu yang disebut hidup bersama teknologi,” jawab orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Kalau Dul Karung dalam posisi dan kondisi seperti itu, bukannya mengambil hape atau teriak memanggil nama sang pacar. Tetapi mengucapkan assalamu alaykum sampai urat lehernya melembung,” seloroh orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang mengundang tawa hadirin. Tentu saja si Dul tidak turut tertawa. Mesem saja pun tidak.

“Begini. Maksudku orang yang hidup dengan atau bersama teknologi itu, ya orang yang mengikuti tuntutan dan tuntunan zamannya. Tidak kuno!” kata orang yang duduk di kanan Dul Karung lagi. Tetapi ketika dia ingin bicara lagi, orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang tiba-tiba memotong.

“Begitu juga dalam hal transportasi? Misalnya zaman sekarang mau ngurus becak lagi, itu namanya kuno?” tanyanya.

“Wah tendensius nih! Tapi…..ya baiklah! Di zaman segala suatu sudah serba mesin seperti saat ini, mundur rasanya kalau ada orang yang mau urusin becak lagi. Itu problem zaman Bang Ali jadi gubernur. Setengah abad yang lalu!” jawab orang yang duduk di kanan Dul Karung.

“Tetapi kata Pak Gubernur dasarnya adalah kontrak politik saat beliau kampanye dulu. Apa yang sudah beliau janjikan beliau ingin mewujudkannya. Pak Wagub pun sependapat dan mendukung beliau. Bedanya, Pak Gub mau bikin aturan agar becak hanya bergerak di daerah pemukiman saja. Sedangkan Pak Wagub ingin becak beroperasi di daerah pariwisata saja. Becak yang melanggar peraturan akan ditindak tegas,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Dulu, zaman Bang Ali jadi gubernur juga begitu. Becak hanya beroperasi di lokasi yang ditetapkan. Malah ada ketentuan yang disebut “becak siang” dan “becak malam.” Bukan hanya wilayahnya, waktunya pun diatur. Tapi tetap saja semrawut,” bantah orang yang duduk di kanan Dul Karung.

“Dari dulu sampai entah kapan, peraturan di negeri kita ini tampaknya dibuat untuk dilanggar. Lihat saja sepeda motor sekarang, gak ada yang gak melanggar peraturan. Pada zaman penjajah, bahkan sampai 1 atau 2 tahun setelah kita merdeka, gak ada kendaraan yang bebas merdeka melawan arus lalu lintas. Jangankan sepeda motor, sepeda biasa pun gak ada yang melanggar arus. Bila terpaksa melanggar arus, penumpangnya turun. Kendaraannya, baik itu sepeda maupun motor dituntun,” sambung orang yang duduk di kanan Dul Karung yang tampak sudah berumur.

“Tapi menurut Pak Gub nanti akan ada petugas yang khusus mengawasi ketertiban becak. Kalau ada yang melanggar langsung ditindak,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Kerjanya menguber becak yang melanggar ya? Jadi nanti selain ada taksi dan ojek uber, ada juga becak diuber-uber?” kata Dul Karung seraya ngeloyor meninggalkan warung. ( syahsr@gmail.com )