Tuesday, 20 November 2018

Pedagang dan Pemilik Bengkel di BSD Protes Tarif Parkir

Selasa, 23 Januari 2018 — 9:01 WIB
Sejumlah pedagang dan pemilik bengkel maupun toko yang keberatan adanya parkir berbayar di tempatnya berjualan hingga membuat sepi pembeli. (anton)

Sejumlah pedagang dan pemilik bengkel maupun toko yang keberatan adanya parkir berbayar di tempatnya berjualan hingga membuat sepi pembeli. (anton)

TANGERANG (Pos Kota) – Ratusan pengusaha dan pemilik toko kendaraan di kawasan Autopart Bumis Serpong damai (BSD) Serpong, keberatan adanya tarif berbayar yang dilakukan pihak pengelola parkir terhadap konsumen yang datang ingin berbelanja atau memperbaiki kendaraan persis di tempatnya berjualan.

“Jelas aja keberatan konsumen datang ke depan toko untuk memperbaiki mobil atau kendaraan yang rusak, tapi diminta uang tarif parkir berbayar jelas membuat konsumen enggan masuk ke lokasi jualan atau tempatnya berusaha,” kata Santoso, perwakilan pedagang, Senin (22/1).

Seluruh pedagang dan pemilik usaha meminta pihak pengelola parkir yaitu PT SAS yang mengelola Asosiasi Pedagang BSD Autopart (APBD) hendaknya mencabut kegiatan tarif parkir berbayar yang merugikan pedagang karena konsumen enggan masuk ke loksai jualannya.

Menurut dia, tidak masuknya konsumen ke tempat usaha jelas membuat rugi pedagang dan uini tentunya ada kesalahan penafsiran dari Keputusan Walikota Tangsel No. 974.3/Kep.239-Hukm/2017 tentang tarif parkir di tempat khusus. “SK Walikota itu dipergunakan di kawasan hotel, perdagangan atau mal dan lainnya buka di tempat kami yang merupakan bengkel atau spartpart saja,” tuturnya.

Calon konsumen datang ke toko atau bengkel untuk memperbaiki kendaraan maupun membeli suku cadang jika dikenakan tarif parkir berbayar, tambah dia, jelas keberatan dan terlalu mahal. Terlebih bila kendaraan harus masuk bengkel diperbaiki hingga beberapa jam masa harus bayar parkir mahal.

Hal senada dikatakan, Heri, pedagang lainnya, ambil contoh satu mobil di tempat asya ingin memperbaiki lampu depan yang harus memerlukan waktu satu hingga tiga jam memperbaiki sedangkan parkir persis di depan toko tapi harus bayar parkir mahal itu yang menjadi keberatan konsumen maupun pedagang.

“Konsumen takut masuk ke lokasi jualan karena parkri terlalu mahal,” tuturnya yang berharap pengelola untuk mencabut dan mengratiskan tarif parkir berbayar.

Aksi keberatan dan protes pedagang maupun pemilik bengkel maupun spart part kendaraan akhirnya diterima pihak PT SAS dan pengurus APBA yang kemudian memberikan batas waktu tiga hari untuk menyampaikan keluhan serta permasalahan ke kantor Walikota Tangsel berkaitan parkir berbayar di kawasan tersebut.

(anton/sir)