Monday, 19 November 2018

Jadi EO Kontes Burung, Hobi Untuk Menopang Kehidupan

Rabu, 24 Januari 2018 — 1:37 WIB
Edhie Edward dan Sutiyoso

Edhie Edward dan Sutiyoso

MENJALANI pekerjaan yang didasari hobi memang mengasyikkan. Hal itulah yang dirasakan Edhie Edward Event Organizer (EO) kontes burung kicau. Setelah sempat menekuni berbagai jenis pekerjaan, iapun kini merasakan kenyamanan dalam mencari nafkah.

Terlebih apa yang dikerjakan cukup menjanjikan untuk menopang kehidupannya. “Setelah beberapa kali menyelenggarakan kontes dan sukses, maka saya sudah memantapkan diri menjadi EO saja,” ujar Edhie Edward di lokasi lapangan lomba yang dikelolanya di Jalan Garuda Nomor 3 Kemayoran, kemarin.

Berkat dukungan banyak teman, ‎pendiri klub pecinta burung kicau Garuda 268 Team sering menggelar lomba tingkat nasional.

Pria paruh baya ini menceritakan awal mulanya sebagai EO karena banyak teman sesama pecinta burung kicau memintanya untuk menyelenggarakan Latihan Prestasi (Latpres) maupun lomba burung kicau. “Ternyata peminatnya banyak dan sukses. Jadi keterusan sampai sekarang,” papar Edhie yang namanya sudah moncer di kalangan pecinta burung di tanah air.

Sebelumnya warga Jakan Garuda, Kemayoran, Jakarta Pusat ini, sempat menekuni berbagai jenis usaha, baik sebagai karyawan, wira usaha, maupun pedagang. “Saya pernah jadi agen asuransi, lalu merintis sebagai pedagang ponsel zaman AMPS sampai GSM di Jalan Hayamwuruk, depan Duta Merlin.

Kemudian merambah jadi broker properti, lalu ke dunia entertainmen membuka Athena Studio di Jalan KH Hasyim Ashari. Namun hal itu belum membuat saya merasa mantap,” kenang ayah dari dua anak yang sudah punya cucu.

Tapi sejak enam tahun lalu menekuni sebagai EO, Edhie mulai merasa mantap. “EO ternyata bisa diandalkan untuk menghidupi keluarga. Jangan salah lho, EO cuma dianggap kerjaan musiman saat ada lomba saja. Kerjaan EO saya cukup padat, lima hari dalam seminggu. Istirahatnya cuma Jumat dan Senin,” papar Edhie yang hampir tiap hari mengadakan latpres maupun lomba kelas wilayah di lapangannya.

TINGKAT NASIONAL

Selama menjadi EO, Garuda 268 Team telah menggelar banyak lomba tingkat nasional maupun propinsi. Tiap lomba kelas nasional, sedikitnya diikuti 2 ribuan peserta lomba. Dari banyaknya peserta, maka pundi-pundi rupiah dinikmatinya. Keuntungan diperoleh dari penjualan tiket peserta, sponsor, dan lainnya. Dia beberapa kali bertemu dengan mantan Gubernur Sutijoso yang merupakan penggemar berat burung kicau.

“Sukanya adalah dapat order dari organisasi, tokoh masyarakat, instansi pemerintahan maupun perusahaan swasta. Jadi, kita tidak pusing mikirin dana, cuma menyiapkan kontes sebagus mungkin,” papar Edhie. Adapun bagian dukanya adalah kendala hujan, peserta minim, juri nakal, dan waktu terlalu mepet.

Edhie menambahkan di balik kontes terdapat transaksi jual-beli burung dengan harga selangit. “Banyak burung juara yang dibeli juragan dengan harga sampai ratusan juta rupiah. Baru-baru ini ada seekor love bird warna langka yang memenangi kontes kecantikan, dibayar sebesar Rp 250 juta. Harga tersebut memang terkesan, tidak masuk akal. Tapi itulah serunya dunia hobi, tak bisa diukur dengan uang,” pungkasnya. (joko/ruh)