Thursday, 22 February 2018

Federasi Hoki Indonesia Berjuang Untuk Mencari Pengakuan

Kamis, 25 Januari 2018 — 7:12 WIB
Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Hoki Indonesia (PP FHI), Brigjen TNI Yus Adi Kamrullah. (prihandoko)

Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Hoki Indonesia (PP FHI), Brigjen TNI Yus Adi Kamrullah. (prihandoko)

JAKARTA -Federasi Hoki Indonesia (FHI) akan terus berkoordinasi dengan Komite Olahraga Indonesia (KONI), Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk bisa meyakinkan Federasi Hoki Asia (AHF) dan Dewan Olimpiade Asian (OCA) sehubungan penyelenggaraan hoki Asian Games 2018.

Pasalnya, FHI menjadi satu-satunya federasi hoki di Indonesia yang diakui sejak tahun 2004 setelah KONI Pusat mencabut keanggotaan Persatuan Hoki Seluruh Indonesia (PHSI) pimpinan Raj Kumar Singh.

“Sebagai federasi resmi, FHI akan berkoordinasi dengan KONI, KOI dan Kemenpora untuk meluruskan informasi yang masuk ke AHF dan OCA. Dengan adanya bantuan KONI, KOI dan Kemenpora, kami yakin bisa menyelesaikan permasalahan yang ada. Apalagi, statuta International Hockey Federation (IHF) jelas menyebutkan hanya mengakui organisasi yang diakui oleh negara yang bersangkutan,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Hoki Indonesia (PP FHI), Brigjen TNI Yus Adi Kamrullah dalam acara pembukaan pelatnas hoki Asian Games 2018 di Lapangan Hoki Gelora Bung Karno Jakarta, Rabu (24/1).

Upaya yang dilakukan itu, kata Yus Adi Kamrullah, untuk meyakinkan AHF dan OCA jika memberikan kepercayaan penuh terhadap FHI sebagai penyelenggara pertandingan hoki Asian Games 2018.

“Kami menganggap rekomendasi AHF dan OCA yang disampaikan kepada INASGOC untuk mengambil alih penyelenggaraan hoki Asian Games 2018 sebagai ujian. Makanya, kami ingin lulus dari ujian tersebut sehingga AHF dan OCA tidak salah memberikan kepercayaan penuh kepada FHI sebagai penyelenggara hoki Asian Games 2018. Sebab, FHI adalah satu-satunya federasi hoki resmi yang diakui pemerintah dan telah menjalankan tugasnya dalam pembinaan olahraga hoki di Indonesia,” ujarnya lagi.

Sebagai bukti FHI sebagai satu-satunya federasi hoki di Indonesia, kata Yus Adi Kamrullah, FHI akan mengirimkan bukti-bukti kepada AHF dan IHF serta OCA secepatnya. Yakni, SK anggota resmi KONI dan KOI serta surat rekomendasi dari Kemenpora agar FHI mendapat pengakuan dari International Federation Hockey (IHF).

“Kita juga akan melampirkan bukti Keputusan Pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap berdasarkan Putusan Mahkamah Agung yang menolak permohonan Kasasi PHSI,” tambahnya.

Sebagai bukti komitmen FHI dalam menjalankan pembinaan hoki, beber Yus Adi Kamrullah, rutinnya pelaksanaan kejurda dan kejurnas setiap tahun. Bahkan, dia menyebut FHI telah mengirimkan Tim Hoki Indonesia mengikuti Indoor Asia Hockey Cup 2014 di Changhua Taiwan yang digelar AHF, SEA Games Myanmar 2013, SEA Games Singapura 2015 dan SEA Games Malaysia 2017. “FHI juga membayar iuran kepada AHF,” ujarnya.

Dari segi prestasi pun, PP FHI melalui program pembinaanya yang fokus telah membuahkan hasil. “Di SEA Games Malaysia 2017, tim hoki putra dan putri secara mengejutkan mampu menyumbangkan 2 perak. Terakhir, prestasi Indonesia meraih medali pada SEA Games Jakarta 1987,” ungkapnya.

Yang lebih mengagetkan, pengakuan Yus Adi Kamrullah, bahwa organisasi yang dipimpinnya tidak pernah melupakan jasa Raj Kumar Singh saat memimpin PB PHSI dalam mengembangkan hoki di Indonesia. Makanya, dia menawarkan permintaan resmi untuk kesediaan Raj Kumar Singh duduk sebagai Presiden Kehormatan PP FHI saat dipertemukan Plt Sekjen KOI, Hellen Sarita Delima beberapa waktu lalu. “Bagaimana pun pak Raj Kumar Singh itu berjasa mengembangkan olahraga hoki. Makanya, kami tidak keberatan jika beliau duduk sebagai Presiden Kehormatan FHI karena semua demi kemajuan hoki Indonesia,” tandasnya. (prihandoko/b)