Friday, 17 August 2018

KADO HARI GIZI

Kamis, 25 Januari 2018 — 6:03 WIB

Oleh H. Harmoko

MENYAMBUT Hari Gizi Nasional tanggal 25 Januari ini, ada kado buruk dari Papua: belasan ribu warga Asmat menderita gizi buruk. Selain bergizi buruk, mereka terjangkit campak. Akibat hanya fokus pada pembangunan fisik?

Media massa selama ini lebih banyak memberitakan pembangunan Papua dari aspek fisik. Bisa dipahami, mengingat hal ini sejalan dengan tema besar yang diangkat oleh pemerintah, sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2015—2019.

Di luar aspek fisik, RPJMN 2015—2019 sebenarnya juga menekankan upaya peningkatan kualitas manusia di Papua, namun lebih ditekankan pada peningkatan penguasaan iptek untuk meningkatkan daya saing. Artinya, orientasinya masih saja kepada daya saing yang berkaitan dengan hal-hal fisik.

Peningkatan kualitas manusia dan penguasaan iptek ini, menurut Bappenas, sejalan dengan arah dan kerangka pengembangan wilayah secara nasional, untuk mendukung pengembangan klaster-klaster industri. Nah, pendekatan sosio ekonomi tetap menjadi pilihan utama pemerintah. Bagaimana pembangunan aspek nonekonomi?

Di situ masalahnya. Bagaimana kita bisa mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif kalau asupan gizi saja masih menjadi masalah? Sebagaimana dilansir media massa, ada sekitar 15.000 warga Asmat menderita gizi buruk, selain terjangkit campak.

Mungkin bisa kita cermati pernyataan Prof. Dr. Dodik Briawan dari IPB bahwa gizi buruk terjadi karena adanya kebiasaan yang salah terkait dengan pola makan di masyarakat. Tidak hanya faktor ekonomi, tapi juga pemahaman masyarakat tentang apa yang baik dan tidak baik untuk dimakan.

Masyarakat sekarang, benar kata Prof. Dodik, terbiasa dengan makanan yang praktis atau instan; ditambah lagi dengan pengaruh iklan-iklan produk makanan dan minuman untuk anak yang mempengaruhi keputusan orang tua dalam memilih makanan.

Bahkan, di Kendari pernah terjadi ada balita diberi minum susu kental manis karena ketidaktahuan orang tua. Ini justru membuat si anak mengalami gizi buruk. Kok bisa? Bisa, karena selama ini ada persepsi bahwa susu kental manis itu bernutrisi tinggi. Padahal, yang tinggi itu kandungan gulanya.

Di Wamena baru-baru ini juga mengalami kejadian luar biasa gizi buruk. Ada korban jiwa. Tetapi, baik di Asmat maupun di Wamena, kejadian seperti itu sepertinya dipengaruhi kondisi geografis sehingga yang dibutuhkan adalah bantuan pangan. Lebih dari kurangnya drop-dropan pangan, yang perlu diperhatikan tentu soal edukasi bagi masyarakat.

Apa pun, ada pelajaran penting bagi kita bahwa pembangunan fisik memang penting, tetapi pembangunan nonfisik yang terkait dengan kesehatan juga tak kalah pentingnya. ( * )