Monday, 22 October 2018

Selingkuh dengan Brondong Digerebek Operasi Gabungan

Jumat, 26 Januari 2018 — 6:59 WIB
gajeaaa

RUPANYA Kasmonah, 40, termasuk wanita paling gatel se kota Bangkalan (Madura). Punya suami ganteng seperti Barodin, 45, kok masih miara brondong Kasmowi, 27. Paling memalukan selingkuh hanya berdua, yang menggerebek tim gabungan berjumlah 20 personal. Duh, duh, malunya sampai di sini.

Banyak memang perempuan gatel di era gombalisasi ini. Bukan gatel karena eksim atau terkena krawe, tapi gatel karena tak puas oleh pelayanan suami. Gatel model begini sih, takkan sembuh oleh obat gatal, tapi harus ketemu lelaki lawan tanding yang seimbang. Celakanya, usia mereka juga sering tak seimbang. Perempuan usia kepala empat, lawannya belum juga kepala tiga. Itulah brondong!

Ny. Kasmonah warga Bangkalan, rupanya termasuk wanita yang suka brondong. Bukan brondong jagung (popcorn) atau brondong ketan hitam, melainkan brondong dalam arti pasangan kencan yang berusia jauh lebih muda. Soalnya dia terilhami kata-kata Bung Karno dulu. Bila presiden pertama RI itu siap mengguncang dunia dengan 10 pemuda, Kasmonah jusrtu bilang, “Berikan aku satu pemuda, akan kugoyang-goyang ranjang saya…..”

Sebetulnya Kasmonah harus berterima kasih punya suami macam Barodin. Meski sama-sama duda dan janda, tapi suami kedua ini cukup tampan di kelasnya. Penghasilan juga sangat memadai. Untuk menghidupi anak bawannya bersama dua anaknya hasil pernikahan keduanya, sangatlah cukup. Maka boleh dikatakan, jadi isrti Barodin ibarat kata Kasmonah cukup: mamah karo mlumah.

Tapi orang hidup bertetangga kan sekedar sawang-sinawang, belum tahu fakta riel di dalamnya. Bagi Kasmonah, soal “mamah” memang iya, mau masakan Padang, sega liwet Solo atawa nasi gudeg Yogya, semuanya bisa tersedia. Tapi apa orang hidup hanya perlu itu. Soal perut boleh selalu dijamin, tapi yang di bawah perut?

Inilah problem klasik yang sedang dialami Kasmonah. Soal “mamah” tercukupi, soal “mlumah” yang kapiran-kapirun (terlantar). Semenjak pekerjaan kantor semakin sibuk, Barodin tak lagi bisa memberikan nafkah batin secara sempurna dan prima. Ibarat lagu-lagu, Barodin bisanya hanya lagu wajib ketukan ¾. Padahal maunya Kasmonah, sekali pop, kroncong atau ndangdut.

Sekali waktu dia kenalan dengan Kasmowi, anak muda yang berusia jauh di bawahnya. Tapi secara tongkrongan, sangat menjanjikan. Maka setiap ketemu pemuda itu, jantung Kasmonah berdegup kencang, serrr…..begitu rasanya. “Tongkrongannya saja begitu, apa lagi “tangkringan”-nya ini bocah.” Kata Kasmonah dalam hati.

Seakan lupa pada suami, dia berusaha menjerat anak muda itu untuk dijadikan pemuas dahaga dan cinta. Diam-diam Kasmonah sering berkomunikasi dengan anak muda ini. Namanya anak muda, dipancing-pancing dengan barang langka dan jarang ada, langsung saja nyosor. Apa lagi habis melayani Kasmonah selalu diberi uang transpor dan uang rokok, makin semrintil saja dia.

Lama-lama Barodin dapat bocoran info dari tetangganya. Masak iya sih? Tapi data-datanya demikian akurat, sehingga harus mempercayainya. Maka setelah dapat alamatnya, Barodin pun selalu memantau rumah Kasmowi. Begitu ada info akan terjadi koalisi sekaligus eksekusi, Barodin mengontak tim gabungan yang terdiri dari: Satpol PP, Intel Kodim 0829, dan Polres Bangkalan; sebanyak 20 orang anggota.

Tim gabungan itu segera mengerudug rumah mesum tersebut. Memang benar ditemukan Kasmowi-Kasmonah dalam kamar. Meski tidak dalam posisi berbuat, tapi hal itu sudah bikin Barodin emosi. Keduanya segera dibawa ke Polres. Kalau saja tak dihalang-halangi petugas, pastinya Kasmowi sudah jadi bergedel.

Kasmowi bergedel, Kasomonah juga sudah dedel-duwel. (HS/Gunarso TS)