Saturday, 18 August 2018

Jauh-jauh dari Malaysia Terpikat Janda Tetangga

Sabtu, 27 Januari 2018 — 6:40 WIB
sayyy

MENYESAL sungguh Umiati, 32, menikah dengan Usmansyah, 35, lelaki asal Malaysia. Jauh-jauh di “ekstradisi” dari negeri jiran ke Surabaya, eh….malah kecantol dengan janda gajah abuh (gembrot) tetangga sendiri. Tak mau berkepanjangan makan hati, meski sudah punya anak, Umiati pilih menggugat cerai saja.

Banyak TKW-TKI kita yang kecantol dengan WNA tempat mereka mencari uang. Tak sedikit yang terus menetap di negeri orang, tapi banyak juga pasangan bangsa asing itu diajak pulang ke Indonesia. Anak-anak mereka akan menjadi indo, akibat perkawinan silang. Tak ubahnya menthok kawin sama bebek, nanti anak-anaknya menjadi branti. Wek, wek, wek, wekkkkkk………

Umiati warga Rungkut Surabaya, beberapa tahun lalu menjadi TKW di Malaysia. Disela-sela kerjanya dia berkenalan dengan lelaki Malaysia, yang kebetulan jadi tukang listrik (instalatir) rekanan PLN sana. Dari seringnya ketemu, ternyata terjadi nota kesepahaman, sehingga Usmansyah siap jadi suami Umiati dan siap pula diboyong ke Indonesia. Maka setelah menikah, keduanya kembali ke RI. Sungguh mbrengkut bawaan Umiati, ya benggol (uang) ya bonggol made in Malaysia.

Dari perkawinan mereka telah lahir seorang anak lelaki diberi nama Tengku Jamal yang merupakan kepanjangan kata: Jawa-Malaysia. Biar orang asing, suami Umiati ini cepat akrab bergaul dengan tetangga. Jika momong si upik, selalu diajak main ke rumah para tetangga itu. Usmansyah jadi mengerti tradisi dan budaya orang Surabaya. Yang bikin Usmansyah bingung, saat mampir Jakarta, di sana semanggi jadi jembatan, eh di Surabaya malah dibikin pecel.

Kebiasaan main ke rumah tetangga, lama-lama berdampak negatif bagi keluarga Umiati. Soalnya diam-diam Usmansyah tertarik pada janda tetangga sendiri, Kasiyatun, 30. Secara kasat mata memang tak menarik. Tapi dia anak keluarga kaya dan gemuknya seperti gajah abuh. “Tapi enak juga punya pasangan gembrot, karena dijamin tak pernah terkena sakit pinggang, karena memang tak punya pinggang.” Batin Usmansyah.

Mengapa Usmansyah merujuk pada pertimbangan ekonomi ketika tertarik pada Kasiyatun? Janda kimplah-kimplah ini memang royal memberi uang padanya. Padahal dari istri sendiri, karena statusnya hanya pejantan belaka, uang selalu dicatu oleh istrinya. Paling repot, hanya memberi uang Rp 50.000,- saja Umiati selalu minta LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban)-nya. Beli rokok cap apa, ngopi berapa gelas, di mana. Ribet deh.

Kemungkinan besar kisah cinta Usmansyah – Kasiyatun bakal berakhir, sebab sejak Umiati tahu skandal suaminya, dia membawa persoalan ini ke Pengadilan Agama Surabaya. Usmansyah jika sudah terdepak dari rumahtangga, belum tentu bisa diterima jadi menantu keluarga Kasiyatun. Soalnya ya itu tadi, di Indonesia Usmansyah tak punya pekerjaan, kecuali hanya petentang-petenteng belaka, mengandalkan uang saku dari istri.

Bagaimana dengan nasib anak semata wayang mereka? Umiati bermaksud mengasuh sendiri, sebab Usmansyah akan kembali ke negerinya hanya bermodal baju dan celana yang dikenakannya. “Biar kapok dia. Punya istri seperti saya kurang apa sih, kok malah tertarik “gajah abuh” tetanggaku. Sakit hatiku,” kata Umiati.

Kasiyatun bak gajah abuh, dilihat pakai kaca pembesar pula! (JPNN/Gunarso TS)