Monday, 19 November 2018

Manfaat Berteman

Sabtu, 27 Januari 2018 — 7:05 WIB
bbbi

Oleh S. Saiful Rahim

“KOK tampangmu lecek seperti handuk belum disetrika, Dul?” tanya orang yang duduk dekat pintu warung kopi Mas Wargo seraya bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Ah itu cuma acting saja supaya kita tidak minta ditraktir,” jawab orang duduk di ujung kiri bangku panjang sebelum Dul Karung memberi reaksi.

“Dul Karung mentraktir kita? Wah, hingga katak berbuntut pun mustahil Dul Karung mentraktir kita. Utangnya saja pada Mas Wargo belum beres-beres,” sambar orang duduk di ujung kanan bangku panjang.

Mendengar ucapan itu hampir seluruh hadirin tertawa. Hanya Mas Wargo dan Dul Karung saja yang jangankan tertawa, tersenyum pun tidak.

“Wah rupanya kalian tidak tahu atau lupa,” kata orang duduk di ujung kiri bangku panjang lagi. “Ingat! Tiga pekan lalu di warung ini Dul Karung mengaku tahu rencana Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta mengenai pembangunan kembali Blok G Pasar Tanah Abang. Untuk itu diperlukan sebidang tanah buat penampungan sementara pedagang Blok G tersebut. Aku masih ingat hari itu Dul Karung buru-buru pamit. Katanya ingin ke Pasar Tanah Abang cari “uang bisik-bisik.” Dia yakin betul tanah yang akan disewa untuk penampungan pedagang Blok G adalah milik seseorang yang dikenalnya,” sambung orang itu dengan sedikit pongah.

“Jadi Bung anggap kantongku sekarang penuh dengan uang bisik-bisik?” potong Dul Karung dengan suara tinggi dan disambung tawa panjang.

“Sekitar tiga pekan lalu desas-desus sampai ke telingaku menyebutkan Pak Gubernur dan wakilnya berniat menyewa tanah Pak Haji Lulung untuk dijadikan areal penampungan sementara pedagang Blok G. Apa kau kenal baik Pak Haji Lulung sehingga kau yakin benar akan terima uang bisik-bisik Dul?” tanya orang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Oh sama sekali tidak,” jawab Dul Karung cepat. “Sama sekali aku tidak kenal Pak Haji Lulung. Lagi pula uang bisik-bisik yang kusebut tiga minggu lalu tidak ada sangkut-paut dengan Pak Haji Lulung,” sambung Dul Karung.

“Mungkin Dul Karung tidak mengenal Pak Haji Lulung. Tetapi mereka berdekatan. Pak Haji Lulung kan tokoh besar Tenabang dan Dul Karung itu anak Karet. Tenabang ame Karet deket banget. Kate orang tue dulu, anak Karet kalo sekole dibawe ke Tenabang. Orang Tenabang kalo meninggal dibawe ke Karet,” kata entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Ngomong-ngomong yang kudengar terakhir Pak Gubernur dan Pak Wagub tidak jadi menyewa tanah milik Pak Haji Lulung. Yang disewa sekarang adalah tanah milik Robby Sumampouw, teman lama Pak Wagub,” ujar orang berpakaian perlente duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Itulah manfaat berteman,” kata Dul Karung sambil meninggalkan warung. (syahsr@gmail.com )*