Sunday, 18 February 2018

Bini Kerja Bantu Suami Malah Remek Digebuki

Minggu, 28 Januari 2018 — 5:54 WIB
cerai

TRISNO, 35, lelaki paling sombong se Surabaya. Gaji kecil dibantu istri kerja tidak mau. Ketika Ny. Sarini, 30, diam-diam nekad kerja, Sentot masih tenang saja. Begitu tahu, langsung ngamuk. Istri dihajar dan mau diceraikan. “Mau ceraikan saya, bayar Rp 50 juta buat ngurus anak-anak. Trisno sanggup, tapi wacana saja ngkali.

Tugas suami mencari nafkah buat keluarga, sedang istri momong anak di rumah. Tapi jika penghasilan suami tak mencukupi, tak salah istri ikut membantu. Tapi tak semua lelaki siap menerima uluran tangan istri. Dia merasa kalah gengsi jika istri ikut bekerja mencari nafkah. Maka banyak suami melarang bini kerja. Jika nekad malah diancam, “Kalau kamu kerja, saya tak momong anak saja di rumah.”

Trisno warga Tandes Surabaya, termasuk lelaki yang bergengsi tinggi. Istrinya yang cantik itu dilarang kerja, cukup momong anak saja di rumah. Idealnya memang begitu, istri cantik sekedar untuk sajen turu (hiasan tempat tidur), atau cukup mamah karo mlumah. Soal mencari nafkah biar menjadi tanggungjawab mutlak suami.

Tapi tak semua lelaki bisa mengamankan prinsip-prinsip tersebut. Bahkan banyak lelaki yang hanya berfungsi jadi pejantan doang. Trisno memang tak sampai sebegitunya. Meski gaji kecil, dia bertahan jadi pencari rejeki tunggal. Berangkat pukul 07.00 tiba di rumah lagi pukul 20.00. Tapi penghasilannya hanya cukup untuk makan setengah bulan.

Sarini pernah menawarkan diri, untuk ikut bekerja buat bantu beli garam dan sayur di dapur. Tapi Trisno tak mengizinkan. Ketika istri agak ngotot jawabnya malah sengkring, “Kalau kamu kerja, ya sudah saya tak keluar dan momong anak saja.” Tentu saja Sarini tak berkutik sehingga meski ekonomi kekurangan dia tak berani melanggar larangan suami.

Tapi karena kebutuhan makin banyak, dan kedua anaknya mulai masuk sekolah, diam-diam Sarini nekat kerja. Dia bekerja di TU sekolah swasta, yang bisa masuk kerja pukul 08.00 dan kembali ke rumah pukul 14.00. Dengan demikian saat berangkat dan pulang kerja, Trisno sama sekali tidak tahu. Sebab setiap dia pulang, istri juga sudah di rumah dan waktu mau berangkat kerja, Sarini juga selalu nguntapke (mengantar) sampai depan pintu.

Bebera bulan lamanya rahasia itu terjaga. Trisno sama sekali juga tak menduga. Bila kemarin-kemarin makan pakai nasi beras murah, sekarang pakai beras menthik, dia tak juga mempertanyakan. Tahunya makan tambah enak saja, sampai nambah dan glegeken. Padahal itu berkat hasil kerja istri.

Lama-lama tahu juga, karena ada tetangga yang ngomong. Merasa dilangkahi, Trisno jadi naik pitam. Harga dirinya tersinggung, karena istri sampai kerja di luaran. Meski istri sudah menyampaikan sejumlah alasan, tetap saja tak dimaafkan. Sarini pun dikemplang sampai jatuh pingsan.

Sejak itu Trisno tak berani pulang, karena mertua juga ikut mengomeli dirinya. Istri juga tak pernah mencarinya. Bagi Sarini, met zonder suami, rumahtangga jalan terus. Wong sudah punya penghasilan sendiri ini. Tahu-tahu minggu lalu Trisno pulang dan mengajaknya ke Pengadilan Agama untuk bercerai. “Mau ceraikan saya? Silakan, tapi bayar Rp 50 juta untuk membesarkan anak-anakmu.” Kata Sarini.

Ternyata Trisno menyanggupi, sehingga keduanya berangkat ke Pengadilan Agama. Tapi karena tak ada ketentuan bayar di depan, sampai gugatan itu sudah berproses, Trisno belum juga memberikan dana Rp 50 juta tersebut.

Gaji tak cukup kok ditodong uang segitu, paling-paling jual Jembatan Merah. (JPNN/Gunarso TS)