Monday, 19 February 2018

KOMUNIKASI SAMBUNG RASA

Senin, 29 Januari 2018 — 5:31 WIB

Oleh Harmoko

SEORANG pemandu acara televisi, Najwa Shihab, sedang jadi pembicaraan publik karena teknik wawancaranya cenderung memojokkan si narasumber. Wawancara terkesan dinamis, memang, tetapi banyak orang menilai si Najwa terkesan lebih dominan berbicara ketimbang narasumbernya.

Teknik wawancara seperti itu sebenarnya menarik untuk ditonton. Hal ini mengingatkan kita pada pemandu gelar wicara televisi CNN, Oprah Winfrey, yang begitu dinamis mewawancarai narasumber; sama halnya yang dilakukan oleh Oriasna Fallaci.

Baik Oprah Winfrey maupun Fallaci tidak pernah membosankan dalam memandu acara. Mereka begitu dinamis menggiring narasumber ke dialog yang seru, piawai menggali daya pikir, naluri, sampai mengocok emosi si narasumber.

Najwa Shihab sebenarnya memiliki potensi seperti itu. Dia cerdas, Tetapi, entah mengapa, dalam beberapa kesempatan dia gagal melakukan tugasnya dengan baik. Dia berhasil membuat acara terlihat “panas” dan seru. Untuk bisa menarik dan seru, Najwa memosisikan dirinya sebagai antagonis atau pemeran watak yang berseberangan dengan si narasumber.

Nah, dalam posisi itu, Najwa kerap tidak segera kembali dalam posisi netral sehingga bisa menggali apa yang ada di benak narasumber secara lebih mendalam. Bahkan, dia cenderung berposisi sebagai “aktor utama”, tidak segera mengembalikan bahwa “aktor utamanya” sejatinya si narasumber. Karena itu, dia gagal mengeksplorasi pikiran dan pandangan narasumbernya.

Dalam situasi seperti itu, si narasumber kurang mendapat ruang untuk menyampaikan pendapat dan gagasan-gagasannya. Akibatnya, poin-poin penting dalam prinsip komunikasi sambung rasa pun hilang.

Komunikasi sambung rasa, ini penting untuk menemukan gagasan-gagasan dan perasaan. Tetapi, jangan-jangan itu memang dianggap tidak penting. Yang penting acara seru. Begitukah? Entahlah. ( * )