Sunday, 18 February 2018

PIL Kok Dibawa ke Rumah, Rekaman CCTV jadi Bukti

Senin, 29 Januari 2018 — 6:23 WIB
inibar

AWALNYA Santo, 50, tak percaya bahwa istrinya punya PIL yang suka dibawa ke rumah. Tapi setelah pasang kamera CCTV, semuanya menjadi jelas. Heni, 40, memang terekam bawa gendakannya masuk kamar. Meski anak-anak sudah gede, terpaksa Santo mengadakan tindakan tegas, istri diceraikan segera.

Orangtua selalu mengingatkan, cari istri harus teliti. Jangan seperti orang beli mangga di Jakarta, kelihatannya kuning menawan, ternyata rasanya asem karena hanya mateng dipaksa (karbitan). Kalau mangga biasa, takkan terlalu rugi. Tapi jika mangga yang pakai rok atau jilbab seperti itu kelakuannya, rumahtangga pun jadi hancur karenanya.

Dua puluh tahun lalu saat mau pacari Heni, sudah ada teman yang mengingatkan, meski Heni itu cantik, tapi tak sampai ke dalam-dalam. Hanya luarnya saja. Kala itu Santo mendebat, kok sampeyan tahu, apa pernah mbiyak? Ya enggaklah; sebab maksudnya, karakter Heni kurang baik untuk menjadi ibu rumahtangga, yang akan melahirkan anak-anak kita.

Tapi Santo ngeyel, karena sudah kadung cinta setengah mati. Jadilah kemudian mereka sebagai suami istri dan tinggal di Semampir. Ternyata kata-kata teman dulu betul. Heni ini pemborosnya minta ampun, tampilannya mau niru para wanita sosialita. Sudah punya banyak sepatu, tas dan baju, asal mau kondangan pasti minta baju baru.

Heni termasuk perempuan yang tak bisa masak, atau memang tak mau masak. Jadi meski punya keluarga banyak mulut, selalu beli rantangan. Jarang masak sendiri. Walhasil penghasilan suami cepat habis sebelum tanggal muda dating. Asal diingatkan jangan boros, jawabnya selalu: “Beli saja kalender, setahun baru habis.”

Soal makan enak dan tampil glamour, Santo masih bisa memaklumi dan mengimbangi. Tapi setelah rumahtangga jalan 20 tahun, mulailah kelihatan aslinya yang paling buruk. Diam-diam dia punya PIL, para tetangga suka memergoki Heni jalan dengan lelaki lain. Saksi mata hanya melihat dari jauh, mau mendekat takut Heni jadi malu. “Tapi bener Mas. Kalau omongan saya bohong, saya siap dijejeli apem.” Kata tetangga untuk menggaransi testimoninya.

Makin ke sini, kabar buruk itu semakin nggilani (menakutkan). Saat anak istri tak di rumah, Heni berani masukkan PIL-nya ke dalam kamar. Nah, Santo baru merasakan kaget yang luar biasa. Bila ada lelaki sampai berani masuk daerah teritorialnya, ini sudah melanggar kedaulatan rumahtangga. Harus dilawan.

Diam-diam Santo beli CCTV dan dipasang secara tersembunyi. Beberapa hari berikutnya ternyata masuk data yang mengagetkan. Di situ terekam ada lelaki tak dikenal masuk ke dalam kamar bersama istrinya. Adegan selanjutnya memang tak terliput, tapi itu sudah merupakan bukti kuat prselingkuhan itu.

Tanpa ba bi bu Santo mengajak istrinya ke Pengadilan Agama Surabaya. Untuk apa Mas, tanya istri. “Ya mau gugat cerai kamu, masak ke Pengadilan Agama mau beli rujak cingur.” Jawab Santo kesal. Tapi Heni masih juga tak mau mengakui dosa-dosanya. Baru setelah ditunjukkan rekaman CCTV-nya Heni tak berkutik.

Kemari-kemarin malah tak ber….baju bersama PIL-nya di kamar. (JPNN/Gunarso TS)