Saturday, 26 May 2018

Semalam Minta Tiga Ronde Padahal Suami “Zul Keple”

Selasa, 30 Januari 2018 — 6:32 WIB
belum

JIKA ada istilah istri tahan bantingan, inilah Ny. Erlina, 30, dari Surabaya. Bayangkan, dalam semalam dia minta “banting-bantingan” di ranjang sampai 3 kali. Zulbahri, 32, suami yang tergolong lelaki “zul keple” akhirnya pilih cerai, karena Erlina untuk manjakan libidonya diam-diam tega memelihara PIL.

Banyak kaum wanita yang hobinya mengujungi supermarket, shoping sebagai rekreasi sekaligus untuk penyerapan “anggaran” dari suami. Sepanjang gaji suami gede atau sedang menjadi praktisi korupsi, itu tak menjadikan kebangkrutan ekonomi. Tapi banyak juga wanita yang pengidap hyper…..seks. Dalam semalam minta dikencani suami sampai 3 kali. Kecuali suami yang rosa-rosa macam Mbah Marijan, pasti menyerah menghadapi istri model begini, yang doyan begituan.

Lelaki paling malang se Surabaya mungkin hanyalah Zulbahri, warga Gayungan. Menikah baru 2 tahun lalu, kebahagiannya terenggut gara-gara terjadi revolusi mental dalam diri istrinya. Dulu Erlina itu terkenal sebagai wanita rumahan, jarang nangga (main ke rumah tetangga). Tapi belakangan, tak sekedar ke rumah tetangga, tapi juga ngelayap ke mana-mana. Bukan belanja atau pergi arisan, tapi jalan-jalan sama PIL-nya.

Awalnya dia ikut kegiatan senam pagi setiap Sabtu pagi di halaman kantor RW. Terus juga ikut terapi ini dan itu. Hasilnya, wowww…..! Bukan saja stamina tubuhnya meningkat, tapi gairah atau libidonya juga naik berlipat-lipat. Biasanya berbagi cinta sama suami cukup dilakukan tiga kali seminggu sesendok makan, sekarang manya tiap malam dan nambah sampai 2 kali.

Zulbahri benar-benar kuwalahan, kodok kalung kupat awak boyok sing gak kuwat. Sebagai pegawai bank yang kerja dari jam 07.00 hingga 18.00 setiap hari, benar-benar kehabisan energi setiap sampai di rumah. Tapi malamnya Erlina mengajak “banting-bantingan”, menuntut pelayanan purna ranjang secara sempurna. Ketika sekali saja sudah KO, Erlina justru menyindir, “Ganti saja namamu Mas, jangan Zulbahri, tapi Zul Keple….”

Keple atau kepleh, dalam bahasa Jawa artinya lemah. Sedikit kata-kata itu, tapi sengak didengar bagi Zulbahri. Bagaimana mungkin ganti nama orang tanpa pakai slametan jenang abang-putih. Tapi karena yang menjuluki istri sendiri, Zulbahri mencoba memaklumi sekaligus memaafkan. Gusti Allah ora sare, begitu dia mencoba mupus (berserah diri).

Belakangan tingkah polah Erlina mulai mencurigakan. Dia mulai gemar dandan, mematut diri. Alis yang sudah tepat pada tempatnya, dikerok dan ganti jalur agak ke atas, mentang-mentang tak perlu menggusur dan membayar ganti rugi. Baju-bajunya juga dikemas lebih seksi dan kekinian.

Seminggu lalu Zulbahri menemukan jawaban dari semua ini. Dia melihat dengan mata kepala sendiri, Erlina makan di mall dengan ditemani seorang lelaki, pakai suap-suapan segala. Di tempat umum saja begitu, apa lagi di tempat khusus, pasti lebih seru. Matik aku…., hu hu…..

Ya, mau nangis rasanya Zulbahri. Tapi dia tak mau bikin gaduh di ranah publik. Dia pulang dan mengadu ke mertua. Ternyata mertua hanya pasrah, ibarat orang angkat barang, jika tak kuat ya letakkan saja. Merujuk kata mertua, beberapa hari lalu Zulbahri mendatangi kantor Pengadilan Agama untuk melakukan gugatan cerai.

Mestinya minum jamu dua kali dosis, dong! (JPNN/Gunarso TS)